Bagikan:

JAKARTA - Insiden mati listrik serentak atau blackout yang melanda sebagian besar wilayah Sumatera menjadi sorotan pemerintah.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria memastikan PT PLN (Persero) akan menjalani evaluasi menyeluruh usai gangguan sistem kelistrikan tersebut.

Menurut Dony, evaluasi dilakukan untuk meninjau proses operasional PLN sekaligus mendalami penyebab blackout yang terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026.

“PLN kita akan mereviu keseluruhan dari pada prosesnya. Nanti kita akan reviu prosesnya,” ujar Dony di Wisma Danantara, ditulis Selasa, 26 Mei.

Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN ini juga mengaku pihaknya masih mengumpulkan informasi terkait faktor penyebab pemadaman massal tersebut.

Namun, ia menegaskan, aspek mitigasi menjadi fokus utama agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Termasuk juga penyebabnya. Kemudian antisipasi ke depan. Yang paling penting kan mitigasi ke depan, supaya ini tidak terjadi lagi,” tuturnya.

Sekadar informasi, blackout di Sumatera diketahui mulai terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 18.44 WIB dan berdampak pada sembilan provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Rata-rata pemadaman berlangsung selama enam hingga 10 jam per hari.

Sejumlah daerah mengalami dampak lebih parah, termasuk Kota Medan yang tercatat mengalami pemadaman hingga 19 jam.

Namun, PT PLN (Persero) baru menyatakan seluruh pasokan listrik dari 176 gardu induk di Sumatera kembali pulih pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 06.00 WIB.

Adapun gangguan bermula dari sistem transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Jambi.

Cuaca ekstrem diduga menjadi pemicu keluarnya transmisi dari jaringan interkoneksi sehingga sistem Sumatera Bagian Utara dan Tengah terpisah dan memicu pemadaman berantai.