Bagikan:

JAKARTA - Hubungan ekonomi Indonesia dan China terus diupayakan terjalin untuk menguntungkan kedua negara.

Meski penanaman modal terus dilakukan China, seperti pada 2024 sebesar 8,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) 2025 sebesar 7,5 miliar dolar AS dan Kuartal I-2026 mencapai 2,2 miliar dolar AS, namun masih terdapat sejumlah kendala yang sering menghambat akselerasi kerja sama.

Kendala yang dimaksud itu adalah ketidaktahuan mendalam mengenai regulasi, kondisi pasar lokal serta potensi bisnis sebenarnya di masing-masing negara.

Merespons hal tersebut, China Silk Road Group Ltd. dan Jababeka Group resmi menginisiasi pembentukan China–Indonesia Innovation & Cooperation Center (CIIC).

Pembentukan platform itu ditandatangani oleh Chairman Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono dan Chairman China Silk Road Group Dr. Yan Lijin di Jakarta, pada hari ini.

Dalam banyak kasus, perusahaan China yang ingin berekspansi ke Asia Tenggara sering kali terbentur pada pemahaman regulasi parsial tentang Indonesia.

Sebaliknya, pelaku usaha Indonesia kerap melihat pasar China sebagai entitas raksasa yang sulit ditembus karena hambatan birokrasi dan perbedaan budaya bisnis tajam.

Chairman Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono mengatakan, pusat inovasi itu dibentuk untuk menghilangkan keraguan tersebut sekaligus menjadi hub strategis untuk mendorong kerja sama industri dua arah, khususnya dalam mendukung ekspansi perusahaan China ke Indonesia.

"Konkretnya, masing-masing pihak akan mendirikan showroom atas nama Innovation & Cooperation Center di Beijing dan Jakarta sebagai platform promosi bagi satu sama lain," ujar Darmono dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 23 April.

Pusat kerja sama tersebut akan berfungsi sebagai hub untuk mempercepat realisasi investasi.

Dengan adanya kehadiran fisik di kedua ibu kota, proses verifikasi mitra bisnis, pemahaman standar industri hingga akses ke otoritas regulasi diharapkan menjadi lebih mudah dan cepat.

Platform tersebut tidak hanya menyasar sektor manufaktur tradisional. Fokus utama akan diarahkan pada pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, termasuk Kecerdasan Buatan (AI), robotika dan konsep Smart City.

Chairman China Silk Road Group Dr. Yan Lijin menyampaikan, Indonesia merupakan mitra strategis terpenting dalam kerangka ekonomi digital di kawasan.

Melalui pusat inovasi tersebut, kata dia, pihaknya ingin membangun ekosistem yang mendukung revolusi digital seiring perkembangan teknologi dan industri.

Tahap pertama akan berfokus pada AI, robotika dan industri pintar. Tahap berikutnya adalah pengembangan kawasan industri digital terpadu.

"Kami ingin menghubungkan keunggulan teknologi China dengan potensi pasar dan sumber daya Indonesia untuk menciptakan kemakmuran bersama," terang dia.

Tahap awal, Yan Lijin menjanjikan dapat membawa investasi China masuk ke Indonesia melalui CIIC senilai 5 miliar dolar AS.

Bagi Indonesia, platform tersebut menjadi pintu masuk bagi produk-produk unggulan lokal untuk mendapatkan panggung di pasar China melalui dukungan jaringan Silk Road Group.

Sementara bagi investor China, Jababeka menyediakan landasan operasional matang melalui ekosistem kawasan industri yang sudah terbentuk.

"Pembentukan pusat ini juga diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi, memperkuat rantai pasok global serta menciptakan peluang baru bagi pengembangan industri lebih inovatif, inklusif dan berkelanjutan di kawasan," pungkas Darmono.