Bagikan:

JAKARTA - Harga kacang pistachio melonjak ke level tertinggi dalam delapan tahun. Lonjakan ini terjadi di tengah perang di Iran yang menekan pasokan, sementara permintaan global justru sedang naik.

Laporan The Straits Times Senin, 13 April, mengutip data Bloomberg, menyebut harga pistachio mencapai US$4,57 per pon pada Maret—tertinggi sejak Mei 2018.

Iran merupakan produsen pistachio terbesar kedua di dunia. Kacang ini banyak digunakan, mulai dari camilan hingga bahan es krim, cokelat, dan minuman. Ketika pasokan dari negara itu terganggu, dampaknya langsung terasa ke pasar global.

Gangguan sebenarnya sudah terjadi sebelum perang. Analis Expana Markets, Nick Moss, mengatakan perdagangan pistachio Iran sejak lama tertekan oleh sanksi dan ketegangan geopolitik. Panen 2025 juga lebih kecil dari perkiraan. Selain itu, gangguan komunikasi pada Januari sempat menghambat koordinasi ekspor.

Perang yang pecah pada akhir Februari memperparah kondisi tersebut. Pasokan makin tipis. Distribusi ke pasar global juga ikut tersendat.

Di sisi lain, permintaan justru meningkat. Tren cokelat “Dubai” berisi pistachio yang viral di media sosial sejak akhir 2023 mendorong konsumsi di Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Sejumlah produsen besar ikut memperluas penggunaan pistachio. Haagen-Dazs dan Tache menambahkannya ke produk es krim dan susu nabati, sementara Starbucks mempopulerkan kopi rasa pistachio. Dalam dua tahun terakhir, harga pistachio di Amerika Serikat tercatat naik sekitar 30 persen.

Masih menurut laporan The Straits Times yang mengutip Bloomberg, data Departemen Pertanian AS menunjukkan Iran menyumbang sekitar 20 persen produksi dunia dan sepertiga ekspor global. Sementara itu, Amerika Serikat menguasai sekitar 40 persen produksi dan hampir setengah pasokan global.

Gangguan juga terjadi pada jalur pengiriman. Gyana Ranjan Das dari Crown Point mengatakan perusahaan pelayaran menghentikan pemesanan baru untuk pengiriman ke Timur Tengah sejak 2 Maret. Dampaknya meluas, termasuk ke India yang mengimpor kacang sekitar US$9 miliar per tahun.

Sejauh ini belum ada kepastian apakah serangan militer merusak kebun pistachio di Iran yang sebagian besar berada di wilayah timur laut. Namun jalur logistik ke pusat perdagangan seperti Uni Emirat Arab dan Turki dilaporkan sudah terganggu.

Kondisi ini mendorong produsen makanan menyesuaikan strategi, mulai dari menaikkan harga hingga mengubah komposisi bahan. Namun mengganti pistachio tidak selalu mudah, terutama jika menjadi bahan utama.

“Bisa jadi es krim musim panas tahun ini rasa pistachionya lebih ringan, atau bahkan tidak ada,” kata Das.