Bagikan:

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi tantangan besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta perekonomian Indonesia.

Dia menjelaskan bahwa di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik dan tekanan terhadap aktivitas ekonomi dunia, stabilitas ekonomi Indonesia sejauh ini masih terjaga.

Purbaya menambahkan, berbagai tekanan eksternal datang silih berganti, mulai dari dinamika pasar global hingga konflik di Timur Tengah.

Menurut dia, perekonomian Indonesia berpotensi melemah apabila tidak dikelola secara hati-hati dan salah satu risiko utama berasal dari gangguan pasokan energi yang memaksa banyak negara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Perang di Timur Tengah ini merupakan tantangan yang amat signifikan bagi APBN dan perekonomian kita. Jadi kalau kita tidak memanage itu dengan baik, kita mungkin nasibnya akan sama dengan negara sekeliling kita yang sudah mengalami mungkin perlambatan ekonomi yang signifikan, karena mereka terpaksa menaikkan BBM atau supply BBM yang tidak ada di pasar," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin, 6 April.

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa berbagai indikator menunjukkan adanya perbaikan dalam kinerja perekonomian domestik, dan hal ini menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan global.

"Jadi memang ada perbaikan yang nyata di perekonomian," imbuhnya.

Dia menambahkan, Kementerian Keuangan akan terus memantau perkembangan situasi secara intensif, dan jika terdapat indikasi pelemahan ekonomi, langkah penyesuaian kebijakan akan segera dilakukan.

"Kita akan monitor terus keadaan seperti ini, kalau ada pelemahan (ekonomi), kita akan memperbaiki secepatnya. Jadi Kemenkeu sudah menerapkan early warning system yang cukup untuk perekonomian kita," tegasnya.

Selain itu, Purbaya menyampaikan, pemerintah juga memantau berbagai indikator ekonomi secara berkala, termasuk aktivitas bisnis dan industri yang tercermin dari penjualan di sektor riil.

"Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi bergerak kuat di dukung aktivitas dunia usaha dan konsumsi domestik," jelasnya.

Dia menambahkan dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter yaitu salah satu langkah yang ditempuh adalah penempatan dana di perbankan guna meningkatkan likuiditas dalam sistem keuangan.

Namun demikian, Purbaya menyampaikan, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak memicu overheating ekonomi, sehingga seluruh kebijakan akan terus dievaluasi secara berkala.