JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah berencana menambah anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) sekitar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun.
Adapun kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga BBM domestik di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Purbaya menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan akan dihitung kembali secara lebih rinci, namun nilai tersebut hanya mencakup subsidi BBM dan belum termasuk komponen kompensasi energi lainnya.
"Rp90 triliun sampai Rp100 triliun, itu subsidi, kompensasi lain lagi" ujarnya kepada awak media, Rabu, 1 April.
"Iya kira-kira, nanti kita hitung lagi," tambahnya saat diminta penegasan terkait besaran penambahan anggaran subsidi BBM.
Selain itu, Purbaya juga tidak merinci sumber pendanaan tambahan subsidi tersebut, namun memastikan kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat.
Menurutnya, pemerintah memiliki ruang keuangan yang memadai untuk meredam tekanan akibat lonjakan harga energi global.
"Kondisi keuangan negara kita amat baik. Saya punya bantalan cukup banyak," tegasnya.
Purbaya menjelaskan bahwa beban subsidi dan kompensasi sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak.
Dia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan dapat menambah defisit anggaran sekitar Rp6 triliun.
“Yang jelas, setiap satu dolar per barel naik itu sekitar Rp6 triliun tambahan defisitnya," tuturnya.
Meski demikian, Purbaya menyampaikan, pemerintah memastikan defisit APBN tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dia menjelaskan, dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran 100 dolar AS per barel sepanjang tahun ini, pemerintah memperkirakan defisit anggaran masih dapat dikendalikan di sekitar 2,9 persen
"Ini udah kita hitung semua kan even dengan rata-rata 100 dolar AS pun, kita sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen, sekitar 2,9 persen, jadi nggak masalah," ucapnya.
Purbaya menambahkan bahwa saat ini ruang fiskal pemerintah masih cukup longgar untuk menahan dampak kenaikan harga minyak global, sehingga harga BBM dalam negeri dapat tetap stabil tanpa perlu penyesuaian dalam waktu dekat.
Dia juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap kondisi APBN, karena seluruh skenario telah diperhitungkan secara matang hingga akhir tahun.
"Untuk sementara ya kalau asumsi harga minyak dunia rata-rata dari sini sampai akhir tahun atau setahun penuh 100 dolar AS per barel. Sekarang kan sudah turun lagi kan, berapa sekarang? 70 dolar AS sekian sekarang, 76-77 dolar AS rata-ratanya. Jadi masih di bawah asumsi yang 100 dolar AS per barel rata-rata tadi. Jadi ruang kita masih terbuka lebar sepertinya. Jadi anda jangan takut dengan kondisi APBN," jelas Purbaya.
Sebagai informasi, hingga akhir Februari 2026 realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp51,5 triliun atau sekitar 11,5 persen dari target APBN tahun ini.
Angka tersebut meningkat 382,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BACA JUGA:
Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh lonjakan belanja kompensasi yang mencapai Rp44,1 triliun, sementara belanja subsidi tercatat Rp7,4 triliun.
Secara keseluruhan, peningkatan tersebut dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP), pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya konsumsi BBM, LPG, dan listrik.