Bagikan:

JAKARTA – Di tengah lonjakan harga energi akibat perang Iran melawan AS dan Israel, Amerika Serikat membuka izin sementara bagi penjualan minyak Rusia yang sudah telanjur berada di laut. Reuters, yang dimuat HuffPost pada Kamis, 12 Maret, melaporkan langkah ini diambil saat pasokan energi global terguncang dan jalur minyak penting di Selat Hormuz masih terganggu.

Amerika Serikat membuka izin sementara bagi penjualan minyak Rusia yang sudah telanjur berada di laut, di tengah lonjakan harga energi akibat perang Iran melawan AS dan Israel. Reuters, yang dimuat HuffPost pada Kamis, 12 Maret, melaporkan langkah ini diambil saat pasokan energi global terguncang dan jalur minyak penting di Selat Hormuz masih bermasalah.

Lisensi itu berlaku 30 hari. Isinya mengizinkan pengiriman dan penjualan minyak mentah Rusia serta produk turunannya yang sudah dimuat ke kapal per 12 Maret, hingga 11 April. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan ini dibuat untuk menstabilkan pasar energi global. Namun, ia menegaskan izin tersebut berlaku terbatas, hanya sementara, dan disebut tidak akan memberi keuntungan besar bagi pemerintah Rusia.

Kebijakan ini keluar sehari setelah Departemen Energi AS mengumumkan pelepasan 172 juta barel minyak dari cadangan strategis. Langkah itu menjadi bagian dari komitmen 32 negara anggota Badan Energi Internasional yang akan melepas total 400 juta barel minyak ke pasar, setelah perang di Timur Tengah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Washington sebelumnya juga sudah memberi izin serupa selama 30 hari khusus untuk India pada 5 Maret, agar New Delhi bisa membeli minyak Rusia yang tertahan di laut. Di saat yang sama, pemerintahan Donald Trump juga menyiapkan langkah lain untuk menahan harga energi, termasuk kemungkinan melonggarkan sementara aturan pelayaran di AS dan memberi dukungan bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk.

Tekanan pasar belum reda. Reuters, mengutip Fox News, melaporkan sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia masih berada di laut di 30 lokasi berbeda di dunia. Jumlah itu diperkirakan hanya cukup menutup kehilangan pasokan dari Selat Hormuz selama lima sampai enam hari. Artinya, izin baru dari AS ini hanya memberi bantalan sementara, sementara masalah utamanya belum hilang yaitu pasokan energi dunia masih terganggu.

Serangan AS dan Israel ke Iran, disusul respons Teheran, telah memperlebar ketegangan kawasan dan mengganggu arus minyak serta gas dari Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan menyatakan akan memblokir pengiriman minyak dari Teluk jika serangan tidak dihentikan. Di tengah situasi itu, Trump mengatakan AS bisa meraup keuntungan besar dari kenaikan harga minyak, pernyataan yang kemudian memicu kritik dari sejumlah anggota parlemen.