Bagikan:

INDRAMAYU - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman mengungkapkan jika dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran baru akan dirasakan Indonesia di Bulan April mendatang.

"Kita lebih menyiapkan after-nya jadi after dari RAFI (Ramadan dan Idulfitri) ini kita siapkan karena memang dampaknya itu akan nanti bisa kita rasakan pada mulai April," ujar Laode dalam Safari Ramadan di Kilang Pertamina Balongan, Kamis, 12 Maret.

Kendati demikian, Laode tidak merinci lebih lanjut terkait dampak apa saja yang akan terjadi di tanah air.

Namun, ia memastikan, pemerintah tetap melakukan sejumlah langkah mitigasi sepeti menyiapkan stok dan pasokan BBM, elpiji dan minyak mentah atau crude.

"Jadi hal itu sudah kita lakukan dan Insyaallah nanti sampai dengan RAFI lalu April dan seterusnya kita jaga bisa stabil," jelas Laode.

Saat ditanya terkait kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi, Laode bilang hingga saat ini tidak ada rencana pemerintah untuk mengerek harga.

"Belum ada (kemungkinan kenaikan). Belum," tandas Laode.

Sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Indonesia tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idulfitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah.

Bahlil menegaskan bahwa stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman dan tidak terdapat gangguan terhadap pasokan BBM maupun Liquified Petroleum Gas (elpiji) di dalam negeri.

Menurut Bahlil, pemerintah saat ini tengah menyiapkan langkah-langkah komprehensif untuk mengantisipasi dampak fluktuasi harga energi global.

Ia juga meminta masyarakat tetap tenang karena pemerintah menjamin pasokan BBM tetap tersedia hingga Lebaran.

"Kita lagi akan meng-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprensif. Tapi sekali lagi, saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa bagaimana menyangkut dengan harga karena sampai dengan hari raya (Idulfitri) ini pasokan BBM terjamin dan insyaallah gak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," ujarnya pada Senin 9 Maret yang lalu.

Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama pada jalur distribusi minyak strategis di kawasan tersebut.

Harga minyak mentah global dilaporkan telah menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, dengan minyak jenis Brent dan WTI bergerak di kisaran 100-110 dolar AS per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah serta meningkatnya permintaan energi dari negara-negara konsumen utama.

Meski tekanan harga minyak global meningkat, pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi dan menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar tidak membebani masyarakat, khususnya pengguna BBM bersubsidi.