Bagikan:

JAKARTA - Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, meresmikan Field Trial (FT) Injeksi Chemical di Lapangan Meruap, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

Untuk informasi, program injeksi kimia ini bertujuan menggenjot produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan yang semakin matang (mature).

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Kerja Sama Operasi Pertamina EP – Samudera Energy Bandar Wijaya Property (KSO BWP Meruap) sebagai bagian dari upaya optimalisasi produksi melalui penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR).

General Manager KSO BWP Meruap, Ani Surakhman mengatakan, proyek ini merupakan field trial pertama di area Kerja Sama Operasi (KSO) bersama PT Pertamina EP, sehingga diharapkan menjadi model pengembangan EOR pada lapangan-lapangan sejenis.

”Kepala SKK Migas hadir langsung disini memberikan sebuah suntikan semangat bagi kami untuk dapat melakukan kegiatan dan produksi dengan semaksimal mungkin,” ujarnya, Selasa, 3 Maret.

Sementara itu dalam sambutannya, Kepa SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa Lapangan Meruap saat ini telah memasuki tahap produksi ketiga dan tergolong lapangan mature, dengan tantangan berupa penurunan tekanan reservoir serta peningkatan water cut.

“Pelaksanaan field trial ini menjadi secercah harapan untuk implementasi injeksi chemical yang lebih komprehensif di lapangan-lapangan mature di Indonesia,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa proyek FT Injeksi Chemical ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan produksi dari lapangan eksisting, mengurangi ketergantungan terhadap eksplorasi berisiko tinggi, serta menjaga keberlanjutan produksi minyak nasional di tengah dinamika energi global.

Lapangan Meruap merupakan lapangan PT Pertamina EP yang di kerjasamakan dengan BWP Meruap dengan skema Kerja Sama Operasi (KSO) telah dimulai sejak Juli 2014, dengan produksi puncak mencapai sekitar 5.000 barel minyak per hari (BOPD) pada tahap produksi primer dan sekitar 2.500 BOPD pada tahap sekunder.

Penerapan field trial injeksi chemical pertama di wilayah KSO ini diharapkan dapat meningkatkan perolehan hidrokarbon yang dapat diproduksikan secara ekonomis hingga sekitar16 persen melalui 16 sumur, yang terdiri dari 3 sumur injeksi dan 13 sumur produksi.

Selain itu, kegiatan ini juga ditargetkan dapat memberikan tambahan cadangan sekitar 50 ribu barel volume minyak serta menghasilkan penambahan produksi menjadi 280 BOPD, atau meningkat lebih dari 50 persen dari baseline produksi saat ini sebesar 180 BOPD untuk ketiga pattern tersebut.