TANGERANG - Pembiayaan murabahah emas PT Bank BCA Syariah mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2025. Hingga Desember 2025, nilai pembiayaan murabahah emas tumbuh 238,1 persen secara tahunan atau yoy, dengan nilai mencapai Rp520 miliar.
VP Retail & Consumer Business BCA Syariah, Arief Mediadianto, mengatakan pertumbuhan pembiayaan emas berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Per Desember 2025 pembiayaan murabahah emas BCA Syariah tumbuh sebesar 238,1 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp520 miliar,” ujar Arief dalam diskusi di Mini Studio BCA Expoversary, Tangerang, ditulis Minggu, 8 Februari.
Arief bilang BCA Syariah melakukan sejumlah inisiatif untuk mendorong pertumbuhan tersebut, antara lain dengan mempermudah akses pembiayaan emas.
Lebih lanjut, Arief bilang sebelumnya pengajuan pembiayaan harus dilakukan secara luring di kantor layanan, kini nasabah dapat mengaksesnya melalui aplikasi mobile banking BCA Syariah, BSya.
“Kita bekerja sama juga dengan berbagai macam vendor-vendor penyedia emas. Awalnya yang paling populer, kan, hanya Antam, kita kemudian bekerja sama dengan Pegadaian, Galeri 24. Kemudian dengan Hartadinata,” jelas Arief.
BACA JUGA:
Di segmen konsumer secara keseluruhan, sambung Arief, pembiayaan BCA Syariah juga mencatat pertumbuhan solid. Total pembiayaan konsumer naik 47,1 persen menjadi Rp2,1 triliun, dengan pembiayaan emas berkontribusi sekitar 30 persen dari total portofolio segmen tersebut.
Meski mencatat pertumbuhan agresif, Arief menegaskan kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan baik. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) berada di level 1,57 persen, yang dinilai jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri.
“Strategi kehati-hatian menjadi kunci agar ekspansi tidak meningkatkan risiko,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Arief bilang kinerja pembiayaan BCA Syariah hingga akhir 2025 menunjukkan tren positif. Total pembiayaan tumbuh 23,1 persen secara tahunan menjadi Rp13,2 triliun. Dari jumlah tersebut, pembiayaan komersial naik 20,3 persen menjadi Rp10,1 triliun, sementara segmen usaha kecil dan menengah (SME) tumbuh 9,7 persen menjadi Rp946 miliar.
“Kalau kita masih ngomongin konsumer, so far masih ditopang sama pembiayaan emas. Kontribusinya mungkin sekitar 30-an persen,” ucapnya.
Sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan, aset perseroan juga meningkat 15,4 persen menjadi Rp19,2 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 17,1 persen secara tahunan menjadi Rp15,4 triliun.
Arief menuturkan, di tengah volatilitas ekonomi sepanjang tahun 2025, BCA Syariah secara sengaja menjaga laju ekspansi agar tetap terkendali demi mengelola risiko secara optimal.
Di tahun 2026, sambung Arief, fokus bergeser perusahaan akan ditujukan ke penguatan segmen UMKM untuk memperluas distribusi risiko dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Strateginya akan lebih banyak berfokus pada SME atau UMKM,” tuturnya.