JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan IHSG dipicu laporan MSCI soal transparansi pasar dan praktik saham gorengan. Ia menyebut reaksi pasar berlebihan dan kondisi ini hanya “shock sesaat”.
“Ini baru laporan pertama. Masih ada waktu sampai Mei. OJK akan membereskan semuanya sebelum Mei,” kata Purbaya di Istana, Rabu, 28 Januari.
MSCI atau Morgan Stanley Capital International adalah lembaga penyedia indeks saham global yang menjadi acuan investor internasional dalam menempatkan dana. Penilaian MSCI terhadap transparansi pasar, likuiditas saham, dan akses investor asing kerap memengaruhi arus modal ke suatu negara.
MSCI sebelumnya menangguhkan perubahan saham Indonesia dalam indeksnya karena kepemilikan saham dinilai terlalu terkonsentrasi dan akses pasar terbatas. MSCI juga membekukan penambahan saham serta kenaikan bobot saham Indonesia. Di saat yang sama, BEI menerapkan trading halt setelah IHSG turun 8 persen ke 8.261,7.
Purbaya menyebut perusahaan akan memenuhi syarat MSCI. Ia menilai momen ini justru kesempatan karena pasar sebelumnya terlalu tinggi.
“Kalau fundamental ekonomi membaik, indeks otomatis naik,” ujarnya.
Ia menegaskan kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi kini lebih sinkron dengan BI. Basis uang disebut tumbuh sesuai harapan. Purbaya juga merotasi 33–34 pejabat Bea Cukai.
BACA JUGA:
“Yang tidak perform saya geser. Kita butuh semangat baru,” katanya. Rotasi dilakukan di Tanjung Priok, Batam, Semarang, Surabaya, dan Bali.
Ia menyatakan pembenahan pajak dan cukai dilakukan tanpa menaikkan tarif. Belanja K/L didorong tepat waktu. Debottlenecking investasi juga diperluas. “Ekonomi bisa tumbuh 6 persen tahun ini,” ujarnya.
Purbaya memperkirakan IHSG mulai pulih pekan depan. Jika perbaikan pasar modal lambat, ia menyatakan siap turun sebagai Ketua KSSK untuk mendorong percepatan koordinasi dengan OJK dan BEI.