JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga, hal tersebut berdasarkan rilis terbaru data perekonomian global, kondisi ekonomi dunia secara umum menunjukkan tren perbaikan, meskipun pertumbuhan ekonomi Tiongkok tercatat masih berada di bawah perkiraan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa aktivitas manufaktur global masih berada di fase ekspansi, walaupun dengan kecepatan pertumbuhan yang lebih moderat.
“Untuk 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih akan berlanjut melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan pra-pandemi seiring dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama,” ungkap Mahendra dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025, Jumat, 9 Januari.
Mahendra menjelaskan bahwa kinerja ekonomi di Amerika Serikat masih relatif kuat dengan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2025 tercatat tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya serta melampaui ekspektasi pasar.
Namun demikian, ia menambahkan pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda perlambatan yaitu inflasi pada November 2025 turun menjadi 2,7 persen, sementara inflasi inti tercatat menurun ke level 2,6 persen. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok masih menghadapi tekanan, terutama akibat lemahnya konsumsi rumah tangga.
Dari sisi produksi, Mahendra menyebut indeks PMI manufaktur China kembali masuk ke zona kontraksi, sementara tekanan di sektor properti masih berlanjut.
Menurut Mahendra kondisi global tersebut, mendorong sejumlah bank sentral kembali menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Adapun, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) dan Bank of England sama-sama menurunkan suku bunga acuan pada Desember 2025.
Namun berbeda dengan langkah tersebut, ia menyampaikan Bank Sentral Jepang mengambil langkah sebaliknya dengan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam 30 tahun terakhir, seiring tekanan inflasi yang masih cukup kuat di Jepang.
“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral itu turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi,” tuturnya.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, Mahendra menambahkan bahwa kenaikan suku bunga di Jepang turut mendorong pelemahan pasar obligasi pemerintah global, seiring berakhirnya praktik carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.
Mahendra menyampaikan pada awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global.
“Di tengah dinamika global itu, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat, sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus,” pungkasnya.