Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu, 24 Desember 2025, menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang libur perayaan Natal 2025.

Di pasar spot, pergerakan rupiah terpantau stabil dengan kecenderungan menguat yaitu pada awal perdagangan Rabu, 24 Desember, rupiah dibuka di level Rp16.775 per dolar AS, menguat tipis sebesar 0,08 persen dibandingkan penutupan Selasa, 23 Desember, yang berada di posisi Rp16.787 per dolar AS.

Penguatan rupiah tersebut sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia yaitu DXY tercatat turun 0,17 persen ke level 97,775, melanjutkan tren koreksi setelah pada perdagangan sebelumnya melemah lebih dalam sebesar 0,35 persen dan berada di kisaran 97,942.

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 23 Desember, kurs rupiah spot ditutup turun 0,06 persen ke level Rp16.787 per dolar AS.

Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,10 persen di level harga Rp16.790 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk menguat seiring berlanjutnya pelemahan dolar Amerika Serikat.

Dia menambahkan, tekanan terhadap dolar AS muncul setelah sejumlah data ekonomi AS dirilis lebih lemah dari perkiraan, termasuk penjualan barang tahan lama dan indeks kepercayaan konsumen, meskipun revisi Produk Domestik Bruto (PDB) AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari estimasi awal

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melanjutkan perlemahan setelah beberapa data ekonomi AS yang lebih lemah yang di antaranya data penjualan barang tahan lama dan tingkat kepercayaan konsumen, walau revisi data PDB AS lebih kuat dari perkiraan," ujarnya kepada VOI, Rabu, 24 Desember.

Selain itu, Lukman menilai dolar AS juga masih berada di bawah tekanan akibat kebijakan Federal Reserve yang menambah likuiditas sebesar 40 miliar dolar AS per bulan, yang mulai diberlakukan sejak pertengahan Desember.

"Dolar AS jg masih tertekan oleh penambahan likuiditas 40 miliar dolar AS per bulan oleh the Fed yang telah dimulai pertengahan Desember," ucapnya.

Sementara itu, Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global, salah satunya berasal dari hubungan AS dan Venezuela, menyusul laporan bahwa angkatan laut AS mencoba menyita kapal tanker minyak ketiga yang dikaitkan dengan negara tersebut.

Selain itu, ia menyampaikan ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat seiring memanasnya konflik Iran dan Israel, di mana laporan terbaru mengindikasikan Iran berpotensi menggunakan latihan militer berskala besar sebagai kedok untuk kemungkinan operasi ofensif.

Ke depan, Ibrahim juga menyampaikan bahwa pelaku pasar masih memperhitungkan peluang pelonggaran kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve hingga 2026.

"Karena data terbaru menunjukkan tekanan inflasi yang mendingin dan pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah," ucapnya dalam keterangannya, dikutip Rabu, 24 Desember.

Di sisi lain, perhatian pasar global hari ini tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS, seperti rata-rata empat minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP, laporan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III yang tertunda, data Pesanan Barang Tahan Lama, Produksi Industri, serta Indeks Kepercayaan Konsumen.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun dalam rentang harga Rp16.780-Rp16.810 per dolar AS.

Sementara itu, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.650 per dolar AS hingga Rp16.800 per dolar AS pada Rabu, 24 Desember.