JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam kepada Bank Dunia (World Bank) lantaran lembaga tersebut kerap keliru dalam membuat proyeksi ekonomi.
Sebagai informasi, dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025, Bank Dunia memperkirakan defisit APBN Indonesia pada 2025 dan 2026 berada di kisaran 2,8 persen, sedangkan untuk 2027, defisit diproyeksikan meningkat menjadi 2,9 persen, meski masih berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Purbaya pun mengingatkan agar publik tidak serta-merta mempercayai prediksi lembaga keuangan internasional tersebut.
"Jadi saya suruh nanggapi Bank Dunia? Ya suka-suka dia, dia prediksi boleh, nggak prediksi juga nggak apa-apa, tapi kan selama ini juga sering meleset," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, dikutip Jumat, 19 Desember.
Ia menjelaskan, besaran defisit APBN sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola belanja negara serta mengoptimalkan penerimaan.
Menurutnya, berbagai pembenahan yang dilakukan di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan mendorong peningkatan penerimaan negara.
BACA JUGA:
"Bea Cukai kan sudah saya tunjukkan bahwa kita sudah menerapkan AI di lapangan dan harusnya ke depan akan membaik terus. Dari perbaikan AI saja kita bisa dapat Rp1 triliun minimal. Nanti kita akan perbaiki lagi yang lain-lain, harusnya kebocoran dari Bea Cukai akan berkurang dengan signifikan," jelasnya.
Purbaya menilai proyeksi Bank Dunia tersebut bisa saja terjadi apabila tidak ada upaya perbaikan. Namun, dengan reformasi yang terus berjalan, defisit APBN tetap dapat dikendalikan.
"Padahal kan kita sedang berubah dan satu lagi, belanja juga kita kendalikan. Artinya bisa saja melebar, bisa saja enggak tergantung kebutuhan kita. Tapi saya yakin kita akan kendalikan di level yang masih berkesinambungan ke depan. Jadi nggak usah terlalu khawatir," tuturnya.