Bagikan:

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi santai olokan yang ditujukan kepada dirinya oleh warga net di media sosial sebagai Menteri Etanol.

Olokan ini bermula ketika dirinya memutuskan untuk mendorong penggunaan etanol sebesar 10 persen dalam produk bahan bakar minyak (BBM) atau E10.

"Saya dibawa kemana-mana dibilang saya Menteri Etanol. Epen kah? Emang penting? Emang kalian pikir bikin gue begitu terus gue risau gitu? Ade itu kau, kah? Itu yang orang Papua bilang "ade kau baru mau tulis kakak sudah baca"," ujar Bahlil di Jakarta, Senin, 8 Desember.

Seperti diketahui, 'Epen kah?' merupakan bahasa Papua yang artinya "memangnya penting?". Frasa ini sering digunakan bersama dengan "cupen toh" yang artinya "cukup penting" untuk percakapan santai, bercanda, atau untuk menyindir.

Dirinya menambahkan, awal mula dirinya memberikan pernyataan peningkatan mandarory E10, dirinya menjadi bulan-bulanan di media sosial.

"Saya pernah diketawain gitu. Awal-awal mereka kan hajar saya di sosmed tentang apa disebut dengan etanol. Sungguh mati saya ini. Kacau betul menyangkut etanol," sambung Bahlil.

Bahlil meduga terdapat dua kelompok yang menolak penerapan E10 ini yakni kelompok yang belum memahami kebijakan dan kelompok importir yang selama ini diuntungkan oleh kebijakan impor energi.

"Tulis besar-besar aja enggak apa-apa. Importir ini barang sudah nyaman kok. 'Apa maunya Bahlil ini?'. Avtur enggak boleh impor, solar enggak boleh impor, sekarang bensin mau dikurangi," kata Bahlil.

Kendati demikian Bahlil mengatakan penerapan etanol sebagai campuran dalam BBM ini dapat mengurangi impor BBM dan sejalan dengan titah Presiden Prabowo Subianto yang ingin mencegah uang negara 'boncos' akibat impor.

"Ini yang dimaksudkan oleh Pak Presiden Prabowo. Jangan boncos terus uang kita keluar. Apa yang kita punya kita manfaatkan dalam negeri ini gitu, lho," katanya.

Bahlil bahkan mencontoh masifnya penggunaan etanol di luar negeri seperti Brasil dengan E30 hingga E100, Amerika Serikat (AS) dengan E20 hingga E85, serta India, Thailand, dan China dengan E10 sampai E20.

"Di Indonesia begitu kita membuat perencanaan E10 udah pada ribut," tandas Bahlil.