Bagikan:

JAKARTA - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat langkah transisi energi bersih melalui pemanfaatan biomassa berbasis tanaman energi lokal.

Upaya ini diwujudkan lewat seremoni penanaman sorgum yang digelar di Kebun Percontohan Sorgum, Pelabuhan Ratu, Sukabumi pada Selasa 25 November yang lalu.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa co-firing biomassa merupakan strategi kunci PLN untuk menurunkan emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada pasokan biomassa yang kuat, efisien, dan terukur dari hulu hingga hilir.

“Energi masa depan Indonesia tidak hanya hadir dari teknologi besar, tetapi juga dari lahan-lahan desa dan tanaman kuat seperti sorgum yang tumbuh di tanah marginal serta memberi nilai tambah bagi petani,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Desember.

Hokkop menjelaskan bahwa sorgum memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi lahan kurang subur dan iklim yang tidak merata. Selain itu, produktivitasnya mampu menopang kebutuhan biomassa secara berkelanjutan.

“Dengan panen cepat setiap 3–4 bulan, potensi tanam sepanjang tahun, serta kontribusi peningkatan pendapatan masyarakat desa, sorgum mampu menjawab tantangan pasokan biomassa jangka panjang untuk co-firing PLTU,” tambahnya.‎

Momentum acara ini juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PLN EPI dan PT Berkah Inti Daya terkait pengembangan ekosistem sorgum, mencakup pembukaan lahan terencana, pendampingan petani, hingga integrasi hasil panen ke rantai pasok energi.

“Jika industri ini tumbuh, yang meningkat bukan hanya energi hijau, tetapi juga kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat di Sukabumi dan sekitarnya,” ungkap Hokkop.‎

‎Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Pelabuhan Ratu, Bowo Pramono menambahkan bahwa pemanfaatan sorgum mendukung keandalan pembangkit dalam perjalanan menuju nol emisi.

Ia menilai beberapa keunggulan sorgum, mulai kemampuan panen cepat, tumbuh di lahan marginal tanpa mengganggu pangan, menjadi faktor penting dalam keberlanjutan co-firing. Ia menegaskan bahwa manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar pembangkit akan tumbuh seiring peningkatan konsumsi biomassa.