Bagikan:

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu, 26 November 2025 diprediksi akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 25 November, Kurs rupiah spot ditutup menguat 0,25 persen ke level Rp16.657 per dolar AS. 

Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup naik 0,25 persen di level harga Rp16.667 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pelaku pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember seiring terus masuknya data ekonomi terbaru dari AS.

"Hal tersebut terlihat dari komentar dovish para pejabat Federal Reserve yang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan bulan Desember," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Rabu, 26 November. 

Dia menjelaskan bahwa komentar terbaru berasal dari Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang menyatakan dukungan terhadap pemotongan suku bunga tersebut. Sikap ini sejalan dengan pernyataan Presiden The Fed New York, John Williams, pada Jumat sebelumnya, yang menilai kebijakan pelonggaran pada Desember memungkinkan terjadi karena pasar tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini menilai peluang pemangkasan suku bunga mencapai hampir 80 persen, naik signifikan dari 30 persen sebelum komentar para pejabat tersebut.

Ibrahim menambahkan bahwa pelaku pasar juga tengah menunggu rilis data ekonomi AS untuk mendapatkan sinyal lanjutan mengenai arah kebijakan moneter.

Adapun Indeks Harga Produsen (IHP) diperkirakan meningkat 0,3 persen secara bulanan (MoM) pada September, sedangkan Penjualan Ritel diproyeksikan tumbuh 0,4 persen (MoM).

Sementara dari dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat mencapai kondisi berimbang atau bahkan surplus pada 2027 atau 2028.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam nota keuangan pada Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus 2025. 

Pemerintah sebelumnya menargetkan defisit APBN 2026 berada pada level 2,48 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Namun, Kementerian Keuangan pada September 2025 menaikkan proyeksi defisit menjadi 2,68 persen, yang kemudian disetujui DPR melalui pengesahan UU APBN 2026.

Kenaikan defisit ini terjadi karena pemerintah tetap melanjutkan sejumlah program prioritas seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih, yang membutuhkan anggaran besar.

Besarnya belanja negara tidak diimbangi dengan pemulihan penerimaan negara.

Penerimaan pajak kembali tidak mencapai target, dengan rasio pajak terhadap PDB turun dari 10,39 persen pada 2022 menjadi 10,31 persen pada 2023, dan kembali turun menjadi 10,08 persen pada 2024.

Untuk menutup defisit, pemerintah berencana menerbitkan surat utang tambahan.

Meski demikian, defisit 2,68 persen masih berada dalam batas maksimal 3 persen sesuai UU Keuangan Negara, aturan tersebut tetap membuka kemungkinan penetapan defisit di atas ambang tersebut dalam kondisi tertentu.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 26 November 2025 dalam rentang harga Rp16.650-Rp16.700 per dolar AS.