JAKARTA - Pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur ternyata mengalami keterlambatan. Hal ini diungkapkan Anggota Komisi VI Khilmi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Pertamina.
Khilmi mengapresiasi sikap Pertamina yang berani meindak kontraktor yang engan menyelesaikan pengerjaan proyek kilang di Kalimantan Timur ini.
"Saya salut ini kepada Pertamina yang berani melawan kontraktor yang tidak mau menyelesaikan permasalahan ini. Hyundai, Pak ya? Hyundai yang dari Korea?" ujar Khilmi yang dikutip Sabtu, 22 November.
Pembangunan kilang RDMP Balikpapan menggunakan skema Joint Operation (JO) dengan beberapa perusahaan antara lain Hyundai, Rekayasa Industri, SK Engineering dan PP
"Joint operation salah satunya Hyundai," ujar Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, menjawab pertanyaan Khilmi.
BACA JUGA:
Khilmi menambahkan, proyek pembangunan RDMP Balikpapan ini bahkan sudah melalui audit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
"​Jadi kita ini kan keberanian Pertamina untuk Hyundai bertanggung jawab bahwa permasalahan kerugian ini kan bukan Pertamina yang mengakibatkan. Dia sudah diaudit oleh BPKP bahwa ini tidak terjadi kesalahan di Pertamina," ucap Khilmi.
Berdasarkan hasil audit tersebut, terungkap jika molornya proyek ini murni karena kesalah kotraktor yang tidak sanggup merampungkan pekerjaan tepat waktu.
"Jadi kita ini harus melihat bukan dia ini Pertamina tidak bisa menyelesaikan permasalahan RDMP yang di Balikpapan ini. Tapi kontraktornya yang tidak sanggup menyelesaikan dengan cepat karena ada permasalahan ini," ujar Khilmi.
Untuk informasi, proyek RDMP Balikpapan ditargetkan rampung dan mulai pengoperasian awal pada pertengahan Desember tahun 2025. Proyek ini diharapkan dapat cepat beroperasi memenuhi 22 hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan saat ini hanya tersisa sedikit saja pada bagian-bagian yang detail bukan bagian proyek yang utama sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
"Jadi, untuk kesiapan secara fasilitas masih ada penyempurnaan sekitar 1-2 persen yang kita harapkan dalam beberapa hari ke depan itu bisa diselesaikan 100 persen sehingga siap untuk diresmikan. Yang 1,5 persen itu ada detail-detail pekerjaan saja," ujar Yuliot saat melakukan kunjungan pada Rabu, 19 November yang lalu.
Proyek RDMP Kilang Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), dimana proyek ini menelan investasi sebesar 7,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp126 triliun. Proyek ini menjadi salah satu investasi yang terbesar dilakukan BUMN dalam satu titik kegiatan untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Salah satu fasilitas yang ada di sini akan menyediakan energi, dengan adanya fasilitas ini, kita mendukung sepenuhnya visi Bapak Presiden yaitu ketahanan energi dan juga bagaimana ketahanan energi ini akan mendukung ketahanan nasional secara keseluruhan karena seluruh kegiatan ekonomi tidak mungkin tanpa ketersediaan energi," tandas Yuliot.