Bagikan:

YOGYAKARTA - Prospek bisnis kelautan Indonesia sungguh menjanjikan, terutama melalui sektor perikanan. Jika Anda mencari peluang cepat cuan maksimal, maka budidaya kepiting bakau adalah jawabannya. Artikel akan memandu Anda memulai dari nol.

Permintaan pasar terhadap kepiting bakau terus meningkat, baik di dalam maupun luar negeri. Jangan lewatkan kesempatan emas ini! Yuk pelajari langkah demi langkah teknik beternak yang efisien agar panen Anda berhasil melimpah.

Mengenal Kepiting Bakau (Scylla Serrata)

Dilansir VOI dari laman Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar, kepiting bakau adalah jenis kepiting yang hidup di dua alam (perairan dan daratan).

Habitatnya ideal kepiting ini meliputi perairan pantai yang terdapat mangrove, daerah muara sungai (estuari), dan perairan dangkal yang berlumpur atau berpasir.

Secara klasifikasi, kepiting bakau termasuk dalam Filum Artropoda, Kelas Krustasea, dan Ordo Dekapoda.

Adapun pembeda jantan dan betina kepiting ini terletak pada bentuk perut atau "celemek". Kepiting jantan memiliki perut berbentuk segitiga sempit yang meruncing. Sementara itu, betina memiliki perut berbentuk segitiga lebih lebar dan tumpul, serta ruas abdomen yang lebih membulat untuk fungsi reproduksi.

Baca juga artikel yang membahas Cara Kaya dalam 30 Hari? Ini Sederhana, Tapi Tidak Akan Kamu Suka!

Adapun tingkah laku yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kepiting bakau di antaranya:

  • Berendam dan Berlubang: Kepiting membuat sarang di lumpur sebagai tempat berlindung.
  • Kanibalisme: Sifat saling memangsa sesama jenis, terutama pada fase rentan seperti setelah ganti cangkang.
  • Moulting (Ganti Cangkang): Proses krusial untuk pertumbuhan, di mana cangkang lama dilepaskan.
  • Kepekaan terhadap Polutan: Menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap pencemaran lingkungan perairan.

5 Poin Kunci Budidaya Kepiting Bakau Sistem Karamba Soliter (Battery Cell)

Budidaya kepiting bakau kini semakin efisien berkat inovasi sistem Karamba Battery Cell atau Soliter. Metode ini memelihara kepiting secara individu di dalam sekat-sekat kotak yang terbuat dari bambu atau plastik.

Keunggulan utamanya metode ini adalah mengatasi masalah kanibalisme, yang merupakan penyebab kematian terbesar dalam budidaya tradisional. Berikut adalah lima poin penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan budidaya:

  • Kualitas Air

Keberhasilan budidaya sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Lokasi ideal harus berupa tambak dengan dasar berlumpur.

Parameter kualitas air harus dijaga ketat, dengan salinitas optimal berkisar antara 10-25 ppt (kadar garam di atas 30ppt akan menurunkan daya moulting), suhu ideal 28-33 derajat celcius (perlu diperhatikan karena suhu tinggi meningkatkan amoniak toksik), pH 7,5-8,5, dan kadar Oksigen Terlarut (DO) harus di atas 5ppm.

  • Penentuan Benih Sesuai Tujuan

Benih yang digunakan disesuaikan dengan tujuan budidaya. Untuk pembesaran, digunakan anakan kepiting dengan berat 30-50 gram hingga mencapai ukuran konsumsi.

Sementara itu, kepiting yang berukuran 150-200 gram dijadikan benih untuk program penggemukan, produksi cangkang lunak (soka), dan produksi kepiting bertelur (khusus betina).

Selain menggunakan sistem Battery Cell, wadah konvensional juga bisa digunakan berupa petak tambak yang dipagari bambu dengan luasan 100m2 hingga 0,5 ha.

  • Pemberian Pakan yang Tepat

Pakan yang diberikan umumnya adalah ikan rucah murah atau binatang pengganggu tambak (seperti ular atau belut) yang dipotong kecil-kecil. Ransum pakan berkisar 3-5 dari total berat biomassa kepiting, diberikan 2-3 kali sehari.

Pemberian pakan tidak boleh berlebihan karena sisa pakan akan membusuk di dalam tambak, yang dapat menurunkan kualitas air dan berdampak buruk bagi kesehatan kepiting.

  • Teknik Pemanenan dan Pengelolaan Air

Pemanenan dapat dilakukan secara sederhana dengan membuang sebagian air tambak hingga kedalaman sekitar 30cm. Untuk penangkapan total, tambak dikeringkan sepenuhnya, dan kepiting ditangkap menggunakan seser.

Kemudian kepiting yang tersembunyi di dalam lumpur dapat diambil dengan seser bambu atau pengki khusus untuk mengeruk lapisan lumpur.

  • Keterampilan Mengikat Menentukan Harga Jual

Aspek terakhir namun sangat penting adalah keterampilan mengikat kepiting. Kepiting memiliki capit yang sangat kuat dan anggota badannya mudah putus saat penanganan. Jika anggota badan tidak lengkap, harga jual kepiting akan menurun drastis.

Oleh karena itu, pengelola budidaya harus mempelajari cara mengikat kepiting dengan cermat untuk memastikan produk yang dijual tetap utuh dan bernilai tinggi.

Dengan mengikuti berbagai langkah di atas, budidaya kepiting bakau sistem Soliter menawarkan solusi cerdas mengatasi kanibalisme. Dengan menjaga kualitas air optimal dan penguasaan teknik dasar, usaha ini menjanjikan hasil panen yang efisien dan bernilai ekonomi tinggi.