Bagikan:

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan pesawat milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan anak usahanya, Citilink Indonesia yang belum layak terbang karena berhenti sementara atau grounded bisa kembali beroperasi pada tahun depan.

Managing Director Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy mengatakan terdapat puluhan pesawat Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia karena grounded. Kondisi ini, ujarnya, menimbulkan tekanan besar terhadap keuangan perusahaan.

“Kalau pesawat grounded, di airlines itu dia double hit. Karena dia grounded, dia tidak punya revenue, tidak ada pendapatan, karena dia tidak bisa terbangkan,” katanya di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 14 November.

Untuk mempercepat pemulihan, Danantara telah menggelontorkan tambahan modal besar kepada Garuda Indonesia. Pada Juni 2025, perusahaan menyuntikkan Rp6,65 triliun dalam bentuk shareholder loan. Kemudian, Danantara kembali menambah dukungan modal sebesar Rp23,67 triliun melalui skema PMTHMETD.

“Dari angka yang kita masukkan ke Garuda kemarin, sebagian besar adalah untuk maintenance, perawatan. Karena Garuda saat ini punya banyak sekali pesawat yang grounded, tidak bisa terbang, karena mereka belum melakukan maintenance yang diperlukan,” ujarnya.

Dengan perawatan yang sedang berjalan, Danantara memasang target agar seluruh pesawat grounded milik Garuda maupun Citilink bisa kembali masuk layanan secara bertahap tahun depan.

“Target kita adalah tahun depan itu semua pesawat yang hari ini grounded aircraft, semua bisa terbang. Tentu ini secara gradual,” tegas Febriany.

Kata Febriany, semakin lama pesawat dibiarkan tidak beroperasi, maka semakin berat beban keuangan yang harus ditanggung maskapai.

Pengaktifan kembali armada akan dibarengi dengan penataan ulang rute, memastikan pesawat yang kembali beroperasi ditempatkan pada jalur strategis yang memiliki permintaan besar dan memperkuat konektivitas nasional.

Sekadar informasi, hingga kuartal III-2025, Garuda Indonesia mencatatkan kerugian 182,53 juta dolar AS atau sekitar Rp3,03 triliun (asumsi kurs Rp16.650 per dolar AS), naik 39,3 persen dibanding periode sama di tahun lalu yang rugi 131,22 juta dolar AS atau sekitar Rp2,18 triliun.