JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan jika PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) telah mengajukan impor elpiji sebesar 1,2 juta ton.
Asal tahu saja, elpiji ini akan digunakan sebagai bahan baku pengolahan petrokimia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pasokan elpiji ini akan didatangkan dari luar negeri d tidak akan mengganggu kestabilan pasokan dalam negeri.
“Enggak, dia kan dia diimpor. Saat ini masih impor. Belum ada yang dalam negeri,” ujar Laode saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat, 7 November.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah memperkirakan pabrik yang baru diresmikan Prabowo pada Kamis, 6 November 2025 ini akan membutuhkan 1,2 juta ton elpiji, Semengara itu konsumsi dalam negeri akan terkerek menjadi 10 juta ton pada tahun 2026.
"Kita tahu bahwa tadi kita baru habis resmikan Cilegon, itu kita membutuhkan LPG kurang lebih sekitar 1,2 juta ton per tahun. Maka konsumsi kita nanti ke depan, di 2026, itu sudah mencapai hampir 10 juta ton LPG. Tidak bisa kita lama, kita harus segera membangun industri-industri dalam negeri," ucap Bahlil.
Kehadiran pabrik diharapkan mengurangi ketergantungan impor produk petrokimia yang selama ini mencapai sekitar 50 persen, sekaligus memperkuat ketersediaan bahan baku industri hilir dalam negeri.
Proyek yang mulai digagas sejak 2016 ini menghabiskan investasi sekitar 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp62,4 triliun. Proyek ini menandai hadirnya kembali pembangunan kompleks Naphtha Cracker di Indonesia setelah sekitar 30 tahun.
Sempat mangkrak selama 5 tahun, namun berkat inisiatif dan terobosan dari Menteri Bahlil yang kala itu menjabat sebagai Menteri Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kendala terkait proses penyediaan lahan akhirnya bisa diselesaikan.
BACA JUGA:
Demikian pula halnya dengan kemudahan investasi, mulai dari penyederhanaan perizinan hingga pemberian insentif yang kompetitif.
Hingga akhirnya pada April 2022 proses pembangunan pabrik berhasil dimulai dan bisa beroperasi sejak Oktober 2025.
Ketika berproduksi penuh, fasilitas ini diperkirakan menghasilkan 15 produk petrokimia hilirisasi migas senilai sekitar 2 miliar dolar AS per tahun, terdiri atas 1,4 miliar dolar AS substitusi impor dan 600 juta dolar AS tambahan ekspor, sehingga turut memperkuat neraca perdagangan sektor industri kimia nasional.