Bagikan:

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 melambat.

Pemerintah diminta untuk mengoptimalkan realisasi belanja agar laju pertumbuhan dapat meningkat pada akhir tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2025. 

Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal II 2025 yang mencatat pertumbuhan 5,12 persen (yoy). 

Sementara secara triwulanan (quarter to quarter/qtq), pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2025 mencapai 1,43 persen, atau melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,04 persen (QtQ). 

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menyampaikan kuartal IV 2025, akan menjadi kunci bagi arah pertumbuhan ekonomi nasional apakah seperti siklus tahunan sebelumnya, di mana kuartal tersebut biasanya didorong oleh belanja pemerintah.

"Pemerintah harusnya fokus kepada mengembalikan daya beli masyarakat. Pada triwulan IV 2024, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi selama tahun 2024. Tinggal bagaimana pemerintah lebih memberikan stimulus ekonomi untuk mendorong daya beli," jelasnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 6 November. 

Senada, Kepala Departemen Riset Makroekonomi & Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 akan berada di kisaran rata-rata historis sepuluh tahun terakhir, yaitu antara 5,0 hingga 5,1 persen. 

Proyeksi ini sedikit lebih rendah dibanding target pemerintah dalam APBN 2025 yang dipatok sebesar 5,2 persen.

"Prospek pertumbuhan PDB Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, sehingga penting untuk mempertahankan kebijakan ekonomi yang ekspansif, terutama melalui percepatan belanja pemerintah di sektor-sektor produktif dengan efek pengganda yang tinggi," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 6 November. 

Menjelang akhir tahun, Faisal memproyeksikan konsumsi rumah tangga akan menguat seiring perbaikan pasar tenaga kerja dan terkendalinya laju inflasi.

Sementara itu, ia menambahkan prospek investasi diperkirakan tetap positif, didukung oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga global dan domestik yang dapat menurunkan biaya pembiayaan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor untuk berekspansi.

Namun demikian, ia menekankan, kondisi ini juga berpotensi mendorong peningkatan impor, mengingat sebagian besar barang impor merupakan bahan baku dan barang modal untuk kegiatan produksi.

Lebih lanjut, Faisal memprediksi pertumbuhan impor akan lebih tinggi dibandingkan ekspor, yang masih tertekan oleh perang dagang global serta perlambatan ekonomi Tiongkok. Meski begitu, ketegangan perdagangan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda seiring sikap pemerintah Amerika Serikat yang lebih terbuka terhadap proses negosiasi.

Dia menambahkan, diversifikasi mitra dagang yang terus diupayakan Indonesia serta pemulihan harga komoditas global diharapkan dapat membantu menopang kinerja ekspor nasional.

"Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan PDB 2025 berada di kisaran 5,0–5,1 persen dibandingkan 5,03 persen pada 2024, ini merupakan revisi naik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan sedikit di bawah 5 persen," ucapnya. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pemerintah akan terus melakukan berbagai langkah tambahan agar pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 agar dapat mencapai target rata-rata tahunan 5,2 persen.

"Nah, upaya kita perlu lakukan di kuartal IV itu kita harus tingkatkan lagi ekonomi supaya angka rata-rata 5,2 persen bisa dicapai," tuturnya.

Airlangga juga menyoroti konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,95 persen (yoy), sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 4,97 persen (yoy).

Dia memastikan, pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. 

"Stimulus cukup karena kita sudah hitung stimulus yang tambahan kan Rp30 triliun. Kemudian KUR masih ada Rp50 triliun. Jadi, itu masih kita bisa dorong. Kemarin kita sudah tanda tangan akad untuk 800.000 KUR. Nah, 800.000 itu kalau rata-rata Rp50 juta berarti Rp40 triliun Jadi, sejalan dengan Rp50 triliun yang kita mau gelontorkan," tuturnya. 

Senada, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perkembangan aktivitas ekonomi di awal kuartal IV yang masih ekspansif ditambah strategi kebijakan di kuartal terakhir tahun ini, diyakini dapat menjaga pertumbuhan ekonomi tahun 2025 sesuai target. 

"Dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp200 triliun kas negara secara prudent untuk memastikan likuiditas ekonomi memadai, termasuk dukungan nonfiskal untuk debottlenecking demi realisasi investasi lebih tinggi secara berkelanjutan,” ujarnya. 

Menurutnya, upaya menjaga daya beli dan mendukung kinerja dunia usaha terus dilakukan dengan optimalisasi belanja melalui program stimulus Rp34,2 triliun dan 8 program akselerasi senilai Rp15,7 triliun di kuartal IV 2025. 

Purbaya menambahkan, investasi dan ekspor bernilai tambah tinggi diperkuat melalui peran Danantara dalam mengungkit kontribusi swasta, serta debottlenecking dengan dibentuknya Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).

Dia menambahkan, dengan perkembangan data terkini, ditambah upaya optimalisasi peran fiskal sebagai enabler aktivitas ekonomi dan kebijakan nonfiskal untuk iklim usaha lebih baik, pemerintah optimistis ekonomi untuk keseluruhan tahun 2025 akan mencapai target 5,2 persen.

“Ke depan, Pemerintah terus mendorong agar mesin pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat. Kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan iklim investasi yang sehat akan terus disinergikan untuk menciptakan pertumbuhan tinggi. Tidak hanya tinggi, namun juga stabil dan dapat menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,“ tutupnya.