JAKARTA - Pulau Saugi yang terletak di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kini tidak lagi tenggelam dalam kegelapan seperti dulu.
Pulau kecil yang hanya seluas 3,8 hektare itu kini terang benderang berkat sinar lampu tenaga surya yang menerangi rumah-rumah nelayan hingga dini hari.
Namun, cahaya itu bukan sekadar penerangan. Ia juga membawa perubahan besar dalam perekonomian masyarakat pulau.
Energi hijau yang dulu terasa jauh, kini menjadi sumber kehidupan baru bagi sekitar 140 keluarga yang tinggal di sana.
Sebelum 2018, warga Pulau Saugi hanya mengandalkan lampu minyak atau genset diesel dengan waktu operasi terbatas, empat jam setiap malam.
Biaya bahan bakar yang mencapai Rp120.000 per bulan menjadi beban bagi nelayan yang penghasilannya bergantung pada hasil tangkapan laut dan kondisi cuaca.
Kondisi itu berubah setelah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kilowatt-peak (kWp) di pulau itu. Sejak saat itu, kehidupan ekonomi warga pelan-pelan bertransformasi.
Kini, warga hanya membayar iuran perawatan sekitar Rp20.000 per bulan untuk menikmati listrik selama 12 jam penuh setiap malam.
Selisih biaya yang cukup besar itu mereka alihkan untuk kebutuhan lain, termasuk membuka usaha kecil.
Keberadaan listrik yang stabil telah melahirkan berbagai aktivitas ekonomi baru. Para ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menjemur ikan kini mulai memproduksi kue kering, kerupuk daun kelor, hingga kerajinan tangan dari kerang laut yang banyak ditemukan di sekitar pulau.
Rahmatia, salah satu warga, bercerita bahwa dengan adanya listrik surya, ia dan kelompok ibu-ibu nelayan bisa menggunakan blender, penggiling adonan, dan alat pemanggang untuk meningkatkan produksi.
“Dulu kami hanya bisa bekerja siang hari. Sekarang malam pun bisa produksi,” katanya dilansir ANTARA, Senin, 27 Oktober.
Tambahan penghasilan dari usaha ini menjadi penyokong ekonomi keluarga, terutama di musim paceklik saat hasil tangkapan menurun.
“Pendapatan kami memang tidak besar, tapi cukup membantu biaya sekolah anak-anak,” ujarnya.
Anak-anak Tak Lagi Ikut Melaut
Dampak listrik surya juga terasa di bidang pendidikan. Sebelum ada PLTS, banyak anak-anak Pulau Saugi yang ikut melaut bersama orang tua mereka karena tak ada penerangan memadai untuk belajar di malam hari. Kini, situasi itu berubah.
Ketua Badan Perwakilan Desa Mattiro Baji, Muh Anas, mengatakan semangat anak-anak bersekolah meningkat sejak adanya listrik. “Sekarang malam mereka bisa belajar atau ikut sekolah daring. Sudah jarang ada anak yang ikut melaut,” ujarnya.
Diperkuat PLN melalui SuperSUN
Program energi hijau di Pulau Saugi semakin kuat setelah PT PLN (Persero) menyalurkan bantuan lewat program Surya Power Solusi untuk Negeri (SuperSUN). Program ini merupakan bentuk inovasi PLN untuk menghadirkan listrik tenaga surya skala kecil di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan konvensional.
Menurut General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, hingga Agustus 2025 sebanyak 1.457 unit SuperSUN telah terpasang di wilayah kerja PLN Sulselrabar. Selain itu, 358 sekolah juga telah mendapatkan akses listrik dari energi surya.
“SuperSUN tidak hanya soal listrik, tapi tentang pemerataan ekonomi. Ketika listrik hadir, aktivitas ekonomi dan pendidikan ikut tumbuh,” kata Edyansyah.
Tenaga Lokal dan Kemandirian Energi
Keberlangsungan PLTS di Pulau Saugi dijaga oleh dua operator lokal, Ilham dan Yusman, yang sebelumnya mendapat pelatihan teknis dari Kementerian ESDM di Ciracas, Jakarta.
Keduanya bertanggung jawab memastikan lebih dari 250 panel surya tetap berfungsi optimal setiap hari.
Meski honor yang diterima tidak besar, keduanya bekerja dengan dedikasi tinggi.
“Kami sadar pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tapi menjaga sumber kehidupan seluruh warga,” kata Ilham.
Peluang Ekonomi Hijau ke Depan
Keberhasilan Pulau Saugi menjadi kawasan mandiri energi menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Pangkep. Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Pangkep, Iman Takbir, menilai potensi ekonomi dari energi surya dapat dikembangkan melalui koperasi atau badan usaha milik desa (BUMDes).
“Kalau dikelola bersama dalam bentuk kemitraan, kapasitas PLTS bisa ditingkatkan. Warga bisa menjadi pelaku ekonomi energi, bukan sekadar pengguna,” ujarnya.
Model pengelolaan seperti itu sejalan dengan arah pembangunan ekonomi hijau nasional yang menekankan partisipasi masyarakat dan desentralisasi energi terbarukan.
BACA JUGA:
Pulau Kecil untuk Masa Depan Energi
Transformasi energi di Pulau Saugi membuktikan bahwa transisi menuju energi bersih tidak selalu dimulai dari kota besar atau industri besar. Dari pulau kecil di gugusan Spermonde ini, perubahan ekonomi berkelanjutan justru berakar dari kehidupan sederhana warga pesisir.
Kini, Pulau Saugi bukan hanya terang di malam hari, tetapi juga menjadi simbol kemandirian ekonomi berbasis energi hijau.
“Energi matahari bukan hanya mencerahkan malam, tapi membuka masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak kami,” ujar Rahmatia.