JAKARTA - Industri manufaktur Indonesia mampu tumbuh sebesar 4,94 persen selama satu tahun Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Meski begitu, industri manufaktur pun tak terlepas dari sejumlah tantangan yang dihadapi.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh industri manufaktur dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini.
"Kalau kami lihat dalam satu tahun terakhir, dinamika perdagangan dunia mengalami perubahan signifikan, dipicu oleh kebijakan tarif dan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. Tentu ini akan berdampak pada rantai pasok global," ujar Agus dalam konferensi pers di kantor Kemenperin, Jakarta, Senin, 20 Oktober.
"Juga ada ketegangan di Timur Tengah antara Israel dan Iran. Alhamdulillah, ketegangan itu telah berakhir cukup cepat, jadi tidak terlalu panjang," sambungnya.
Selain itu, kata Agus, konflik antara Israel dan Palestina turut menjadi tantangan tersendiri bagi industri manufaktur Indonesia. Sebab, ketegangan tersebut menjadi pemicu naiknya harga energi dan juga biaya logistik.
"San ini semua akan membawa potensi terhadap meningkatnya biaya produksi yang tentunya akan berpengaruh pada daya saing produk-produk industri dalam negeri," ucapnya.
Sementara itu, lanjut Agus, instrumen perlindungan produk-produk manufaktur nasional atau non-tariff measures (NTM) dalam negeri masih relatif sedikit. Tercatat hingga Oktober 2025, Indonesia hanya memiliki 207 NTM.
BACA JUGA:
Jumlah tersebut menjadi yang terendah bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
"NTM Indonesia per Oktober 2025 hanya berjumlah 207 NTM, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Tiongkok yang 1.569 NTM, Amerika Serikat 4.597 NTM, India 740 NTM, Thailand 661 NTM," jelas Agus.
Menurut Agus, bila persoalan tersebut tidak ditangani secara serius, pasar dalam negeri akan kebanjiran barang-barang impor yang pada akhirnya akan mempengaruhi industri manufaktur nasional.
"Dan kami khawatir jika ini tidak ditangani secara lebih baik, jika ini tidak ditangani secara serius, tentu akan berakibat terhadap melonjaknya barang-barang impor, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada kinerja sektor industri manufaktur," pungkasnya.