“Mungkin total investasinya itu mencapai kurang lebih Rp91 triliun untuk kurang lebih di 33 daerah itu,” kata Rosan dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Jumat, 10 Oktober.
Rosan bilang angka investasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pengolahan 1.000 ton sampah per hari. Sehingga, satu kota bisa memiliki lebih dari satu Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
“Tetapi kemungkinan besar karena waktu itu angka yang diambil berdasarkan 1.000 ton (sampah per hari) karena di satu daerah bisa menjadi lebih,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rosan mengungkapkan sudah ada investor yang menunjukkan minat untuk terlibat dalam proyek pengolahan sampah ini.
“Tadi saya disampaikan yang ingin ikut program itu terdaftar sudah mencapai 192 perusahaan untuk program Waste to Energy yang baru saja kita sampaikan ini,” tutur Rosan.
Namun, Rosan tak menyebutkan secara rinci nama perusahaan yang berminat pada proyek pengolahan sampah ini. Meski begitu, dia mengungkapkan investor ini berasal dari dalam dan luar negeri.
“Dari perusahaan dalam, luar negeri, perusahaan Tbk-nya juga dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, dari China ada, Korea ada, Belanda ada, Jerman ada, Jepang juga ada Australia juga ada, Singapura apalagi, Malaysia juga ada,” ucapnya.
BACA JUGA:
Rosan bilang proyek pengolahan sampah jadi energi akan dimulai dari 10 daerah pertama. Daerah yang dipilih ini telah disepakati bersama Kementerian Lingkungan Hidup.
Menurut Rosan, daerah-daerah itu dipilih berdasarkan kesediaan sampah dan air bersih. Salah satu daerah tersebut adalah Jakarta.
“Dan kita sudah bicara dengan para gubernur dan wali kota itu, dan bupati, jadi ada 10 daerah yang kita mulai launching pertama,” ucapnya.