Bagikan:

JAKARTA - Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan pemerintah China terkait utang kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Rosan bilang negosiasi juga dilakukan dengan National Development and Reform Commission (NDRC) untuk meminta perizinan.

“Iya (negosiasi) sedang berjalan dengan pihak China, baik dengan pemerintah China, juga dengan NDRC, itu sedang berjalan,” ujar Rosan saat ditemui di Jakarta International Convention Center, Rabu, 8 Oktober.

Meski begitu, Rosan bilang, pihaknya tak ingin menggunakan skema restrukturisasi yang ke depannya masih menyisakan masalah.

Dia mengatakan, akan melakukan reformasi secara menyeluruh agar masalah serupa tak terulang di masa depan.

“Kita maunya bukan restrukturisasi yang sifatnya kemungkinan potensi problemnya di kemudian hari itu ada. Jadi kita mau melakukan reformasi secara komprehensif, secara keseluruhan. Begitu kita restrukturisasi, ke depannya tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini, seperti kemungkinan default dan yang lain-lainnya,” ucap Rosan.

Saat ditanya mengenai skema restrukturisasi yang akan ditempuh, Rosan belum bisa menyampaikannya. Sebab, pembahasan masih berlangsung.

“Ini kan masih berjalan dengan pihak China, jadi enggak elok juga saya sudah bicara di sini, di sana nanti belum ada kesepakatannya. Biar ini kita selesaikan dulu, nanti kita sampaikan secara terakhir,” katanya.

Di sisi lain, Rosan mengakui upaya negosiasi restrukturisasi utang dengan pihak China ini diperlukan karena adanya rencana untuk melanjutkan pembangunan proyek tersebut hingga Surabaya, Jawa Timur.

Namun, Rosan tidak menjelaskan secara lebih rinci. Dia hanya memastikan ingin pelaksanaan proyek dilakukan dengan prinsip berkelanjutan.

“Intinya, kalaupun ini yang Jakarta-Surabaya dilaksanakan, strukturnya itu adalah struktur yang benar-benar sustainable,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Danantara Indonesia bakal melakukan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Restrukturisasi ini menjadi salah satu fokus dari 22 program kerja yang akan dikebut di sisa waktu 2025 oleh Danantara.

Proyek kereta cepat atau dikenal sebagai Whoosh mengalami pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp18,76 triliun.

Dari jumlah tersebut 60 persen dibebankan kepada konsorsium Indonesia atau sekitar 720 juta dolar AS.

Struktur pembiayaannya terdiri dari 25 persen melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) KAI senilai Rp3,2 triliun. Sementara 75 persen sisanya bersumber dari pinjaman ke China Development Bank (CDB) sebesar 542,7 juta dolar AS atau Rp8,4 triliun.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan pihaknya akan mengusulkan beberapa alternatif restrukturisasi utang kereta cepat kepada pemerintah.

“Memang kereta cepat ini sedang kita pikirkan, dan segera akan kita usulkan. Tapi kan solusinya masih ada beberapa alternatif yang akan kita tawar, kita sampaikan kepada pemerintah mengenai penyelesaian daripada kereta cepat ini,” ujar Dony saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu, 23 Juli.

Dony menjelaskan, restrukturisasi utang ini perlu dilakukan guna menjaga kinerja BUMN yang terlibat dalam proyek kereta cepat, khususnya PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang menjadi pemimpin dari konsorsium Indonesia.

Sekadar informasi, operator Kereta Cepat-Jakarta Bandung, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) adalah perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan saham sebesar 60 persen, dan 40 persen persen sisanya miliki konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Komposisi pemegang saham PSBI terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 51,37 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 39,12 persen, PT Jasa Marga (Persero) Tbk 8,30 persen, dan PT Perkebunan Nusantara VIII 1,21 persen.

“Ini operasionalnya kan sedang kita lihat bagaimana nanti solusi jangka panjangnya mengenai utang-utang daripada konsorsium ini yang cukup besar ya. Ini yang nanti akan kita sampaikan (ke pemerintah),” tuturnya.

Dony bilang, restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung ini akan dilakukan secara komprehensif dan tidak menggangu kinerja KAI.

“Kita ingin penyelesaian kali ini komprehensif dan tidak mengganggu kinerja Kereta Api Indonesia ke depan,” ucapnya.