YOGYAKARTA - Sjamsul Nursalim atau Liem Tjoen Ho merupakan salah satu pengusaha besar yang namanya tidak asing di dunia bisnis nasional. Ia memiliki kerajaan bisnis yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari industri ban, ritel, hingga properti. Namun namanya juga sempat menjadi sorotan publik saat terseret kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Sebagai sosok pengusaha keturunan Tionghoa, Sjamsul dikenal memiliki naluri bisnis yang tajam dan keberanian mengambil risiko. Meski latar belakang kehidupannya tidak banyak terekspos, perjalanannya membangun perusahaan PT Gajah Tunggal Tbk menunjukkan kemampuannya sebagai pengusaha visioner. Ia berhasil membawa Gajah Tunggal menjadi salah satu produsen ban terbesar di Asia Tenggara.
Profil Sjamsul Nursalim
Sjamsul Nursalim lahir di Lampung pada 19 Januari 1942. Ia lahir dari keluarga pedagang karet di Teluk Betung. Lingkungan keluarga yang kental dengan aktivitas dagang membuat Sjamsul tertarik menekunu dunia usaha sejak muda.
Ia memulai perjalanan bisnisnya dengan mendirikan usaha produksi ban luar dan dalam sepeda bernama NV Hok Thay Hin. Berkat kerja keras dan strategi bisnis yang tepat, usahanya berkembang pesat dan kemudian diubah menjadi PT Gajah Tunggal Tbk. Perusahaan ini menjadi tonggak penting dalam kariernya sebagai pengusaha besar di Indonesia.
Kesuksesan Gajah Tunggal membuatnya semakin dikenal di dunia internasional. Perusahaan tersebut kini menguasai sekitar 30 persen pasar ban di kawasan Afrika, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Produk terkenalnya seperti GT Radial menjadi bukti kualitas dan daya saing global perusahaan yang dirintisnya.
Tidak puas hanya di industri ban, Sjamsul memperluas portofolio bisnisnya ke berbagai sektor. Ia memiliki saham di Tuan Sing Holdings, perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Singapura. Selain itu, ia juga memiliki keterlibatan besar di PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), perusahaan ritel besar yang menaungi berbagai merek internasional seperti Zara, Converse, dan Starbucks di Indonesia.
Melalui PT Satya Mulia Gema Gemilang, Sjamsul diduga mengendalikan sekitar 51 persen saham MAPI. Langkah ini menunjukkan visinya dalam membangun bisnis lintas sektor yang berkelanjutan dan menguntungkan. Tak heran jika namanya terus muncul dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Menurut laporan Forbes tahun 2024, kekayaan bersih Sjamsul Nursalim diperkirakan mencapai US$1,1 miliar atau sekitar Rp18,08 triliun (kurs Rp16.438 per dolar AS). Sumber utama kekayaannya berasal dari PT Gajah Tunggal Tbk dengan saham sekitar 49,5 persen.
Namun perjalanan Sjamsul Nursalim tidak lepas dari kontroversi. Namanya sempat dikaitkan dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang melibatkan Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) miliknya. Saat krisis moneter 1998, BDNI menerima bantuan sebesar Rp47 triliun dari total dana BLBI senilai Rp147,77 triliun.
Namun, bantuan tersebut disebut tidak pernah dikembalikan kepada negara. Akibatnya, Sjamsul dan istrinya, Itjih Sjamsul Nursalim, ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh KPK karena tidak memenuhi panggilan pemeriksaan. Surat panggilan telah dikirimkan ke lima alamat di Indonesia dan Singapura, namun pasangan ini tidak pernah hadir.
Setelah lama berstatus buron, pada April 2021 KPK akhirnya menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus tersebut. Dengan keputusan ini, status tersangka dan DPO atas Sjamsul dan istrinya resmi dicabut.