Bagikan:

JAKARTA - Pertamina Patra Niaga buka suara terkait kandungan etanol dalam basefuel yang diimpor untuk pasokan BBM operator SPBU swasta.

Asal tahu saja, salah satu operator swasta, Vivo, batal menyerap 40.000 barel basefuel karena terdapat kandungan etanol.

Penjabat (Pj) Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan, kandungan etanol dalam BBM merupakan praktik yang lazim di kalangan perusahaan migas dan berlaku secara internasional.

“Penggunaan BBM dengan campuran etanol hingga 10 persen telah menjadi best practice di banyak negara seperti di Amerika, Brazil, bahkan negara tetangga seperti Thailand," ujar Roberth dalam keterangan kepada media, Kamis, 2 Oktober.

Menurutnya, penggunaan etanol di beberapa negara tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon.

Meski terdapat polemik yang berkembang di tengah masyarakat, Robert memastikan Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa layanan BBM tetap berjalan normal tanpa kendala.

Sebelumnya Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar mengungkapkan, jika Vivo batal membeli base fuel dari Pertamina meski sebelumnya telah sepakat membeli 40.000 barel dari Pertamina.

"Setelah setuju 40.000 barel, akhirnya tidak disepakati lagi. Jadi tidak ada semua (yang mengambil base fuel)," sambung Achmad.

Mantan Dijen Migas ini menjelaskan, alasan Vivo mundur dari kesepakatan ini adalah karena terdapat kandungan di basefuel yang dimiliki Pertamina yang tidak sesuai dengan spesifikasi milik Vivo yakni kandungan etanol.

"Isu yang disampaikan rekan-rekan SPBU ini adalah mengenai konten. Kontennya itu ada kandungan etanol," kata dia.

Padahal, kata dia, kandungan etanol dalam basefuel tersebut masih masuk dalam ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dia merinci, basefuel yang telah didatangkan Pertamina ini memiliki kandungan etanol sebesar 3,5 persen.