YOGYAKARTA - Pemerintah Amerika shutdown menjadi sorotan dunia karena berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global. Kondisi ini bukan hanya isu domestik, tapi juga berdampak internasional.
Mengingat kuatnya pengaruh ekonomi Amerika Serikat, setiap gangguan politik atau fiskal di sana berpotensi memberi efek domino pada negara lain, termasuk bagi Indonesia.
Arti Pemerintah Amerika Shutdown
Dilansir dari laman ABC News, shutdown pemerintah Amerika terjadi ketika Kongres gagal menyepakati anggaran negara sehingga pemerintah federal kehabisan dana untuk beroperasi.
Akibat shutdown, sebagian layanan publik berhenti sementara, pegawai negeri dirumahkan tanpa gaji, dan hanya layanan esensial seperti keamanan nasional atau kesehatan darurat yang tetap berjalan.
Kasus terbaru terjadi karena dua rancangan anggaran yang diajukan Partai Demokrat maupun Republik sama-sama ditolak di Senat. Tanpa persetujuan anggaran, pemerintah resmi “shutdown” sejak pukul 00.01 pada Hari Rabu.
Kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Sejak 1977 sudah ada lebih dari 20 kali shutdown, termasuk yang terpanjang pada 2018 selama 35 hari, yang membuat ekonomi AS kehilangan sekitar 3 miliar dolar AS.
Baca juga artikel yang membahas Kupas Tuntas Poin Revisi Undang-Undang BUMN dalam Bahasa Sederhana
Dampak Shutdown Pemerintah Amerika
Perlu Anda ketahui, tidak semua layanan pemerintah berhenti total. Pekerja yang dianggap esensial seperti keamanan perbatasan, penegak hukum, agen imigrasi, tenaga medis di rumah sakit, dan pengatur lalu lintas udara tetap bekerja, namun tanpa gaji sementara waktu.
Sementara itu, pegawai yang dianggap non-esensial dirumahkan tanpa bayaran hingga anggaran disetujui.
Laman BBC bahkan menyebut jika beberapa layanan publik terhenti, misalnya program bantuan makanan, sekolah pra-TK yang didanai pemerintah, hingga museum nasional seperti Smithsonian ditutup.
Selain itu, lembaga kesehatan seperti CDC dan NIH terpaksa menghentikan banyak penelitian. Taman nasional tetap dibuka, tapi minim penjaga sehingga rawan vandalisme. Sektor perjalanan juga terganggu yang membuat pengurusan paspor lebih lama, dan penerbangan bisa mengalami penundaan.
Secara ekonomi, ratusan ribu pegawai federal kehilangan penghasilan sementara, meski biasanya akan dibayar setelah shutdown berakhir. Namun, dampaknya tetap dirasakan luas oleh masyarakat, dari keterlambatan layanan publik hingga berkurangnya aktivitas riset dan pariwisata. Analis bahkan memperkirakan krisis kali ini bisa lebih besar dibanding shutdown tahun 2018.
Dampak Shutdown Amerika bagi Indonesia
Besarnya dampak tergantung pada berapa lama shutdown berlangsung. Namun biasanya, gangguan hanya bersifat sementara karena aktivitas ekonomi bisa pulih setelah pemerintah kembali beroperasi.
Meskipun demikian, jika shutdown berlarut-larut maka sudah dipastikan jika pertumbuhan ekonomi AS bisa turun 0,1–0,2% per minggu.
Kemudian bagi Indonesia, dampak bisa terasa melalui pasar keuangan dan perdagangan. Ketidakpastian ekonomi AS sering memicu gejolak di bursa saham global, termasuk IHSG, serta memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Selain itu, tertundanya data ekonomi resmi AS seperti laporan tenaga kerja bulanan akan membuat investor ragu, sehingga arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa ikut terganggu.
Shutdown pemerintah Amerika bukan sekadar isu domestik, melainkan juga berdampak global. Bagi Indonesia, gejolak pasar, nilai tukar, hingga investasi bisa ikut terpengaruh.
Oleh Karena itu, penting bagi kita mencermati perkembangan politik dan ekonomi AS agar mampu mengantisipasi potensi risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Selain pembahasan mengenai pemerintah Amerika shutdown, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!