Bagikan:

JAKARTA - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melakukan impor emas dari Singapura dan Australia sebesar 30 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

"Mungkin 30-an ton. Potensi kita 90 ton," ujar Direktur Utama Antam Achmad Ardianto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin, 29 September.

Didi, sapaan akrab Ardianto menjelaskan, sejatinya Indonesia memiliki total potensi produksi sebesar 90 ton emas per tahun yang diperoleh dari tambang emas swasta. Menurutny saat ini tambang emas milik Antam, Tambang Pongkor hanya mampu memproduksi 1 ton emas.

Kemudian skema buyback Antam juga dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan emas per tahun yang mencapai 40-an ton.

Di sisi lain, kontrak jual beli emas dengan PT Freeport Indonesia sebesar 25 hingga 30 ton belum maksimal.

“Jadi kalau saat ini produksinya Freeport, perkiraan di tahap awal ini, karena memang lagi proses commissioning dan juga ada beberapa kejadian, itu mungkin baru 25 ton, kita butuhnya mungkin kita bisa sampai 40-50 ton nantinya itu,” sambung dia.

Upaya pemenuhan kebutuhan emas dalam negeri ini juga dilakukan Antam dengan membeli emas dari perusahaan-perusahaan seperti PT Indo Muro Kencana, PT Nusa Halmahera Minerals dan perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menambang emas.

"Mereka memurnikan di Antam, kemudian kita menawarkan," jelas Didi.

Kendati melakukan impor, Didi memastikan emas yang didatangkan dari Australia dan Singapura ini terdaftar dalam London Bullion Market (LBMA).

Perusahaan-perusahaan yang terafiliasi meliputi bullion bank, refinery, maupun trader.