Bagikan:

JAKARTA - Indonesia dan Turki kian serius memperkuat kemitraan di sektor industri. Kedua negara sepakat menyusun peta jalan (roadmap) industri strategis yang akan menjadi tonggak kolaborasi jangka panjang, mulai dari kendaraan listrik hingga industri pertahanan.

Rencana tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dengan Menteri Perindustrian dan Teknologi Turki Mehmet Fatih Kacir, Minggu, 21 September.

"Indonesia akan segera menyusun roadmap kerja sama industri Indonesia-Turki sebagai panduan strategis untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang di berbagai sektor," ujar Agus dalam keterangan resminya, dikutip Senin, 22 September.

Pertemuan kedua petinggi negara tersebut menindaklanjuti rangkaian interaksi Indonesia-Turki dalam dua tahun terakhir. Agus menyebut, sejumlah perusahaan besar asal Turki menunjukkan minat kuat untuk menanamkan modal di Indonesia, antara lain Sanko Holding, Arcelik (KOC Holding) dan Kordsa (Sabanci Holding).

Sanko Holding telah memulai investasi budi daya tuna di Biak, Papua, dengan memperluas usaha ke sektor hilirisasi, termasuk pengolahan tuna, galangan kapal serta energi terbarukan berbasis PLTA.

Sementara Kordsa yang telah beroperasi di Bogor kini tengah mengembangkan riset material komposit, produk airbag hingga penguat struktur bangunan untuk ekspor.

Menperin bahkan mendorong Kordsa mengajukan insentif fiskal berupa super tax deduction untuk kegiatan litbang.

Adapun Arcelik, produsen peralatan rumah tangga terbesar kedua di dunia, telah bekerja sama dengan mitra lokal untuk memproduksi mesin cuci di Indonesia. Ke depan, perusahaan ini berencana memperluas lini produksi lemari es dan pendingin udara, dengan menargetkan Indonesia sebagai basis produksi baru di Asia.

"Momentum kerja sama Indonesia dan Turki juga diperkuat melalui pertemuan High-Level Strategic Cooperation Council (HLSC) pada Februari 2025, ketika Presiden RI dan Presiden Turki menandatangani Joint Statement memperingati 75 tahun hubungan diplomatik," katanya.

Pertemuan HLSC menghasilkan 12 nota kesepahaman antar-pemerintah di berbagai sektor, termasuk industri pertahanan, energi, kesehatan, pendidikan tinggi, perdagangan hingga perindustrian.

Khusus sektor industri, kedua negara membentuk Joint Committee for Industrial Cooperation yang mencakup 14 sektor strategis, mulai dari teknologi baterai, kendaraan listrik, tekstil, hingga industri halal.

Selain itu, terdapat 10 kesepakatan antar perusahaan, seperti kerja sama antara Pertamina Hulu Energi dan TPAO di sektor migas, kolaborasi PT PAL Indonesia dengan TAIS Shipyard untuk pembangunan frigat kelas Istanbul hingga joint venture antara perusahaan Indonesia dengan Baykar dan Roketsan untuk pendirian fasilitas produksi drone tempur.

Pada April 2025, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Turki dengan fokus pada investasi sektor strategis, mulai dari baterai kendaraan listrik, energi terbarukan hingga industri pertahanan. Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan kolaborasi produksi vaksin serta kerja sama pengembangan drone, misil dan komunikasi militer.

Dari sisi bisnis, perusahaan Indonesia seperti Asia Pacific Rayon berhasil menandatangani kontrak ekspor serat viscose senilai jutaan dolar dengan mitra Turki.

Kesepakatan itu diperkuat dengan rencana pertemuan perdana Joint Committee Meeting pada Juni 2025, yang akan membahas pengembangan SDM di kawasan industri, kerja sama techno park, produksi baterai dan EV serta forum investasi.