JAKARTA - Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai bahwa pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa merupakan momen penting yang menandai perubahan arah kebijakan fiskal Indonesia.
"Presiden Prabowo Subianto memilih Purbaya, ekonom lulusan Purdue University, untuk menggantikan Sri Mulyani yang selama ini dikenal sebagai simbol disiplin fiskal dan kredibilitas di mata pasar global," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Selasa, 9 September.
Ia menyampaikan bahwa setelah pelantikannya, Purbaya langsung mengeluarkan pernyataan ambisius dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen bukanlah hal yang mustahil.
Menurutnya bahwa pernyataan tersebut disambut dengan campuran optimisme dan keraguan oleh para pelaku ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa Sri Mulyani merupakan lulusan University of Illinois Urbana-Champaign, yang selama menjabat dikenal sebagai teknokrat berintegritas dengan pendekatan kehati-hatian dan secara konsisten menekankan pentingnya disiplin fiskal, transparansi, dan konsistensi dalam mengelola keuangan negara.
"Selama masa jabatannya, pasar internasional melihat Indonesia sebagai negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas makro meski diterpa berbagai krisis global. Dalam konteks pandemi COVID-19, ia berani mengambil langkah ekspansif untuk menyelamatkan perekonomian, tetapi segera mengembalikan jalur fiskal ke arah disiplin ketika krisis mulai reda," jelasnya.
Menurutnya kredibilitas ini bukan hanya menjadi aset penting Nasional tetapi tetapi juga modal politik di mata dunia yang kini hilamh seiring dengan kepergiannya dari jabatan.
Sementara itu, ia menyampaikan bahwa Purbaya datang dengan pendekatan yang berbeda, dengan latar belakangnya sebagai insinyur elektro lulusan ITB dan ekonom dari Purdue membentuk karakter yang lebih kuantitatif, analitis, dan cenderung berani mengambil risiko.
"Pengalaman panjangnya di sektor swasta dan lembaga pemerintah memberinya perspektif pragmatis untuk menghubungkan model ekonomi dengan praktik kebijakan. Ketika ia menyatakan pertumbuhan delapan persen bukan mustahil, ia ingin menunjukkan bahwa dengan keberanian ekspansi, sinergi pemerintah dan swasta, serta desain kebijakan yang tepat, Indonesia bisa melampaui keterbatasan historisnya," jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa pernyataan tersebut kontras dengan gaya Sri Mulyani yang lebih realistis dan konservatif dalam menetapkan target ekonomi.
Secara filosofis, ia menjelaskan bahwa Sri Mulyani memandang stabilitas sebagai prasyarat utama untuk mencapai pertumbuhan. Sebaliknya, Purbaya tampak meyakini bahwa pertumbuhan tinggi bisa dicapai lebih dulu melalui dorongan ekspansi yang kuat dari negara.
"Pergeseran filosofi ini memiliki implikasi besar. Pasar internasional yang sebelumnya percaya pada jangkar stabilitas Sri Mulyani kini harus menilai ulang konsistensi Indonesia. Jika Purbaya terlalu fokus pada ambisi angka tanpa memperhatikan kredibilitas fiskal, risiko pelemahan rupiah, naiknya yield obligasi, dan keluarnya arus modal akan semakin nyata," tuturnya.
Menurut Karimi, jika Purbaya berhasil menyakinkan pasar bahwa pertumbuhan tinggi dibarengi dengan reformasi struktural, efisiensi belanja, dan iklim investasi yang sehat, maka skeptisisme tersebut dapat berubah menjadi optimisme baru.
Meski demikian, Karimi menyampaikan bahwa target pertumbuhan 8 persen bukanlah hal yang mudah dicapai, karena Indonesia masih menghadapi tantangan struktural seperti produktivitas tenaga kerja yang rendah, jebakan pendapatan menengah, infrastruktur logistik yang belum memadai, basis pajak yang sempit, serta tekanan eksternal dari dinamika perdagangan global dan kebijakan proteksionisme negara maju.
"Target delapan persen lebih menyerupai pernyataan politik ketimbang kalkulasi ekonomi," jelasnya.
Namun, menurut Karimi, optimisme Purbaya tetap memiliki nilai tersendiri dan hal tersebut memberi sinyal bahwa pemerintah tidak ingin stagnan dalam pertumbuhan ekonomi lima persen yang telah berlangsung selama dua dekade terakhir.
"Keberanian menawarkan visi ambisius bisa menjadi dorongan psikologis bagi sektor swasta, birokrasi, dan masyarakat luas. Pertanyaannya bukan hanya apakah delapan persen dapat tercapai, melainkan apakah Purbaya mampu menyatukan optimisme dengan disiplin fiskal yang diwariskan Sri Mulyani," ujarnya.
BACA JUGA:
"Jika ia berhasil, Indonesia bisa membuka babak baru pembangunan berkelanjutan. Jika gagal, ambisi tinggi justru berisiko memicu instabilitas ekonomi," tambahnya.
Ia menyampaikan bahwa pergantian ini bukan sekadar perubahan posisi di kabinet, melainkan pertarungan dua pendekatan kebijakan yaitu kehati-hatian versus ekspansi, kredibilitas versus ambisi.
"Sri Mulyani mewariskan stabilitas yang dihormati dunia, sementara Purbaya membawa optimisme baru yang berani menantang batas," jelasnya.
Karimi menyampaikan bahwa masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan Purbaya untuk membuktikan bahwa pertumbuhan tinggi bisa dicapai tanpa mengorbankan fondasi makroekonomi yang telah lama dibangun.