JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan arah dan prioritasnya usai ditunjuk untuk mengemban posisi Menteri Keuangan.
Dia menyampaikan bahwa, arahan dari Presiden Prabowo Subianto cukup jelas yaitu membalikkan arah ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
"Pertama, saya baru tau tadi jam setengah dua kali, jadi belum banyak pikiran. Tapi pesan Presiden adalah balik arah ekonomi, ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, secepat mungkin. Itu yang akan kita kerjakan ke depan," ujarnya dalam konferensi pers, Senin, 9 September.
Dia menjelaskan, langkah awalnya adalah mengevaluasi kondisi keuangan negara dan mengidentifikasi instrumen-instrumen yang masih bisa dioptimalkan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi.
"Saya akan melihat di keuangan ada apa, instrumen apa yang masih bisa kita optimalkan, disitu akan kita maksimalkan supaya ekonominya jalan lagi. Bukan jalan lagi, jalan lebih cepat. Nanti kalau jalan lagi dibilang berhenti sekarang," tuturnya.
Ia juga menyinggung soal tax ratio (rasio pajak terhadap PDB) yang selama ini relatif konstan dan peningkatan rasio pajak tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan untuk mendorong hal tersebut memerlukan percepatan pertumbuhan ekonomi.
"Enggak ada, cuma saya akan lihat seperti apa intinya. Cuma kalau anda lihat, biasanya yang konstan apa? Tax ratio kan konstan, tax per PDB. Let's say kita nggak bisa berubah dalam waktu dekat, untuk meningkatkan tax ya kita percepat pertumbuhan ekonominya. Kira-kira begitu," jelasnya.
Adapun saat ditanya apakah ada arahan khusus terkait pembentukan badan penerimaan negara, Purbaya menyampaikan bahwa belum ada arahan spesifik dari Presiden Prabowo terkait hal tersebut.
"Belum ada. Kayaknya disuka-suka saya, saya tanya, Pak, gimana Pak? Boleh nggak saya obrek-obrek? Itu kira-kira. Saya nggak tau karena saya baru, itu kode boleh apa nggak?," jelasnya.
BACA JUGA:
Purbaya menegaskan, dirinya akan tetap menghargai sistem yang sudah ada, alih-alih melakukan perombakan besar-besaran.
“Jadi, kita akan optimalkan sistem yang ada. Biasanya kalau kejelekan pemimpin baru gini, kalau pemimpin baru yang lama diobrek-obrek, buat baru lagi, soalnya mau bikin tonggak baru gitu kan. Saya nggak akan seperti itu approach-nya, saya approach-nya adalah syarat yang ada, saya optimalkan sehingga sistem bisa bekerja dengan optimal yang berhenti-berhenti kita optimalkan, yang udah jalan kita percepat lagi," imbuhnya.
Ia menegaskan ini bukan tentang mengganti mesin, tapi menyempurnakan mesin lama agar bisa bekerja lebih optimal.
"Jadi semuanya mesinnya bukan mesin baru, ini mesin lama tapi kita buat lebih bagus lagi ke depannya. Ini orang pintar-pintar semua sini," ujarnya.