JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sepakat kuota untuk kredit usaha rakyat (KUR) usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ditambah. Khususnya untuk sektor produksi.
“Tadi Pak Menteri UMKM (Maman Abdurrahman) sudah mengatakan bahwa produksi ataupun industri harus terus didorong dan tingkat pemanfaatan KUR untuk sektor produksi untuk ditingkatkan. Jadi saya setuju saja Pak Maman," kata Airlangga dalam Pesta Rakyat Untuk Indonesia, di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta, Jumat, 22 Agustus.
Airlangga menjelaskan kuota untuk KUR tersebut sebetulnya tidak dibatasi selama masih ada ruang untuk dimanfaatkan. Dia juga bilang pemerintah menambah untuk sektor investasi jangka panjang sebesar Rp20 triliun.
“Jadi kuotanya ditambah, sebetulnya kuotanya itu limitnya tidak terbatas. Selama itu masih bisa dimanfaatkan dan kemarin bahkan kita tambahkan yang investasi jangka panjang untuk di sektor industri sampai Rp20 triliun,” ucapnya.
“Itu mungkin Pak Maman juga bisa dorong yang industri padat karya termasuk makanan minuman itu termasuk industri padat karya,” sambungnya.
Sementara itu, Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengungkapkan, realisasi KUR UMKM ke sektor produksi sudah mencapai 60,3 persen. Dia bilang angka tersebut dijamin konsisten hingga akhir tahun.
Karena itu, Maman pun mengusulkan adanya tambahan target untuk KUR sisi produksi UMKM menjadi 65 persen.
“Alhamdulillah sampai dengan hari ini, alokasi dari kurang lebih Rp300 triliun tersebut, 60,3 persen sudah teralokasi untuk sektor produksi. Apabila sampai nanti di akhir tahun kita konsisten sudah bisa menyalurkan 60 persen, saya pikir pak Menko, mohon izin mungkin sudah boleh untuk target pengalokasian KUR produksinya kita naikkan di angka 63 atau 65 persen,” tuturnya.
BACA JUGA:
Menurut Maman, penambahan target untuk KUR sektor produksi di atas 60 persen, maka akan menciptakan efek berlapis mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga dampak ekonomi.
“Saya menganggap ini penting, karena kalau kita alokasikan KUR itu 60 persen ke sektor produksi, multiplier effect-nya juga banyak, penyerapan tenaga kerja, efek dampak ekonomi dan lain sebagainya juga besar,” kata Maman.