Bagikan:

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN meminta DPR RI mendorong pemerintah untuk meningkatkan suku bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Pasalnya, suku bunga FLPP yang dipatok saat ini ini dinilai masih terlalu rendah.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan, saat ini suku bunga FLPP hanya sebesar 5 persen.

Menurut dia, besaran suku bunga tersebut menjadi tantangan lantaran BTN menjadi salah satu bank yang memberikan pembiayaan perumahan.

"Hal ini juga sudah kami sampaikan kepada pemerintah dan kami dengar sedang dalam proses untuk penyesuaian, yaitu suku bunga FLPP yang kami rasa hari ini masih sangat terlalu rendah, yaitu 5 persen," ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Jumat, 22 Agustus.

Nixon mengusulkan, suku bunga FLPP antara 6-7 persen dengan catatan penambahan tenor kredit dua hingga lima tahun. 

Dengan demikian, dia menilai, besaran angsuran FLPP dapat ditekan sekitar Rp30.000 per bulan.

"Kami sudah bicara dengan pemerintah, mudah-mudahan ada lampu hijau kami usulkan antara 6-7 persen," katanya.

Dia menambahkan, sumber dana FLPP saat ini berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pinjaman PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebesar 25 persen. Nixon juga meminta suku bunga pinjaman dari SMF tersebut diturunkan.

"Ini kami juga sedang mengusulkan agar suku bunganya di-adjust turun karena suku bunga yang di-charge ke customer hanya 5 persen, sementara kami harus bayar ke SMF 4,45 persen. Jadi, sama-sama lembaga pemerintah, tapi kami mintakan agar mereka juga mampu menyesuaikan penurunan suku bunga yang kami rasakan cukup mahal untuk pembiayaan FLPP," pungkasnya.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+