JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan pemerintah juga sedang membidik pasar ekspor baru ke Afrika. Sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada Eropa dan Amerika.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pemerintah sedang berupaya memperluas akses pasar ekspor dan kerja sama ke wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Latin.
“Kita tidak hanya mengandalkan negara-negara Eropa, Amerika, tapi kita juga negara-negara Amerika Latin. Nanti setelah itu kita mencoba masuk ke Afrika,” ujarnya ditemui di Balai Kartini, Jakarta, Selasa, 12 Agustus.
Budi mengungkapkan pemerintah juga sudah mulai menjajaki perundingan dengan negara-negara di Afrika. Namun, dia bilang Afrika cenderung ingin perundingan dilakukan secara kawasan, bukan langsung ke negara tujuan.
Lebih lanjut, Budi bilang jika perundingan dilakukan secara kawasan, maka akan memakan waktu yang jauh lebih lama untuk berunding, dan mencapai kesepakatannya.
“Kita sudah mulai sekarang menjajaki perundingan-perundingan. Sebelumnya perundingan dengan Afrika sudah kita mulai. Tapi Afrika itu maunya kawasan. Kawasan itu lama. Ya, karena harus ada kesepakatan dari negara-negara anggota,” tuturnya.
Karena itu, Budi bilang Indonesia ingin coba menjalin kerja sama bilateral. Dia bilang sejauh ini yang sudah menyatakan siap melakukan perundingan bilateral dengan Indonesia adalah Afrika Selatan.
“Nah, kita ingin mencoba melakukan bilateral. Kemarin Afrika Selatan sudah menyatakan siap untuk melakukan perundingan bilateral,” tuturnya.
Lebih lanjut, Budi mengatakan langkah ini diambil sebagai upaya agar Indonesia memiliki diversifikasi pasar yang lebih luas. Sehingga, peluang ekspor produk dalam negeri juga lebih luas.
“Jadi kita ingin mencoba pasar kita ke mana saja, ya. Karena potensi kita, industri kita besar,” kata Budi.
Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan Indonesia akan memiliki tiga perjanjian dagang dengan tiga negara berupa CEPA yakni Chile, Peru dan Kanada di tahun ini.
“Nah sehingga nanti kalau ini selesai di tahun 2025 ini kita akan punya tiga perjanjian CEPA dengan tiga negara. Artinya dengan Chile sudah, kemudian sekarang dengan Peru, dan nanti berikutnya dengan Kanada,” ucapnya di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa, 12 Agustus.
Selain itu, Djatmiko bilang, Kemendag bersama kementerian/lembaga terkait lainnya akan terus mempercepat sejumlah perjanjian perdagangan baru sebagai upaya mendiversifikasi pasar.
“Yang sudah selesai, tapi belum ditandatangani, tapi akan ditandatangani di tahun ini adalah Kanada, Eurasia atau EAEU (Eurasian Economic Union), itu gabungan antara Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Armenia. Kemudian ada Tunisia PTA dengan kawasan Afrika Utara,” jelasnya.
BACA JUGA:
Selain itu, Djatmiko menambahkan, pemerintah juga sedang mengupayakan percepatan penyelesaian perundingan perjanjian dagang dengan Uni Eropa.
“Nanti EU akan berikutnya, belum selesai jadi kita akan coba selesaikan. Pak Presiden sudah mengumumkan ada kesepakatan politis untuk menyelesaikan segera di tahun ini. Ya mudah-mudahan nanti dalam beberapa minggu depan bisa kita benar-benar tuntaskan,” katanya.