Bagikan:

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan mengkaji 18 proyek hilirisasi yang sudah diserahkan dokumen studi pra kelayakan oleh Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Bahlil Lahadalia pada hari ini, Selasa, 22 Juli.

Danantara nantinya akan membuka kesempatan bagi swasta maupun perusahaan pelat merah untuk membiayai sejumlah proyek yang ada.

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, dari dokumen tersebut, Danantara kemudian akan mengevaluasi untuk menentukan proyek hilirisasi mana saja yang akan menjadi prioritas untuk mendapatkan pendanaan dari Danantara.

"Pembiayaan ini tetap terbuka, ya. Jadi, bisa dari Danantara, bisa melalui BUMN yang ada, atau bisa juga antara kerja sama BUMN yang ada dengan Danantara investasi. Bisa juga antara kita mengajak dunia usaha sektor swasta lainnya," ujar Rosan kepada awak media di Gedung kementerian ESDM, Selas 22 Juli.

Rosan menegaskan, pihaknya juga membuka peluang proyek ini untuk didanai sendiri oleh Danantara dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria seperti proyek yang paling banyak menciptaan lapangan kerja.

"Salah satu mungkin kira-kira yang bisa saya sampaikan adalah bagi kami yang paling banyak penciptaan lapangan pekerjaan," terang Rosan.

Lebih lanjut, Rosan mengatakan, Danantara tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan swasta asing.

Apalagi, kata dia, saat ini banyak hilirisasi masih menggunakan teknologi dari luar negeri.

"Jadi mungkin teknologi yang terbaik itu dimiliki, masih dimiliki, atau dikuasai oleh pihak asing, jadi kita juga teknologi kita gunakan," beber dia.

Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi ini mengatakan bahwa kontribusi investasi di bidang hilirisasi meningkat cukup signifikan.

“Kurang lebih dari investasi yang masuk di kloter kedua atau kalau dalam satu semester, itu kurang lebih kontribusinya dari Rp950triliun lebih itu mencapai 30 persen, itu berdasarkan dari hilirisasi,” tandasnya.

Rosan juga menyebutkan selama empat bulan Danantara diluncurkan, telah mendapatkan pendanaan melalui kerja sama dengan Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund) lain sebesar 7 miliar dolar AS.

“Dari 7 miliar dolar tersebut itu dengan Qatar 4 miliar dolar AS, kemudian dengan CIC (China Investment Corporation) 2 juta dolar AS dan juga kemudian dengan Russian Direct Investment Fund (RDIF). Dan kita sedang ada pembicaraan dengan Sovereign Wealth Fund lainnya untuk bersama-sama untuk berinvestasi terutama di Indonesia,” pungkas Rosan.

Untuk diketahui, berdasarkan kajian awal Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, dari 18 proyek tersebut, proyek hilirisasi minerba menjadi yang terbesar dengan 8 proyek senilai 20,1 miliar dolar AS dan potensi menyerap 104.974 tenaga kerja.

Proyek di sektor pertanian dan kelautan masing-masing menyerap 23.950 dan 67.100 tenaga kerja.

Sementara itu, proyek transisi energi bernilai 2,5 miliar dolar AS dan menyerap 29.652 tenaga kerja.

Di sektor ketahanan energi, nilai investasinya mencapai 14,5 miliar dolar AS dengan potensi penyerapan 50.960 tenaga kerja.

Secara keseluruhan, 18 proyek ini berpotensi menciptakan 276.636 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.