Bagikan:

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam lima tahun terakhir sektor ekonomi kreatif mampu menciptakan antara 1 hingga 2,5 juta lapangan kerja. Tiga subsektor utama yang mendominasi adalah kriya, kuliner, dan fesyen, dengan kontribusi mencapai 80 persen dari total serapan tenaga kerja.

Dorongan kuat terhadap sektor ekonomi kreatif ini juga menjadi bagian dari agenda pembangunan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, yang menargetkan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Ketua OKK & Pengembangan Wilayah DPP GEKRAFS, Noval Abuzarr, menegaskan pentingnya peran ekonomi kreatif dalam pembangunan nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Creative Talks Road to Kongres 1 GEKRAFS bertema “Peran Ilustrator dan Fesyen untuk Memajukan Ekonomi Kreatif” yang digelar di Jakarta, Kamis 10 Juli.

“Ekonomi kreatif bisa memberikan pekerjaan ke banyak orang. Indonesia harus menjadikan ekraf sebagai masa depan karena sumber dayanya berbasis ide manusia, dan ide tidak pernah habis,” ujar Noval. Menurutnya, contoh sederhana dari ekonomi kreatif adalah bagaimana secangkir kopi rumahan bisa bernilai jauh lebih tinggi ketika dikemas dan dipromosikan dengan baik.

Dalam acara tersebut, Noval didampingi oleh CEO Scarf Media sekaligus Ketua Harian DPP GEKRAFS, Temi Sumarlin, serta ilustrator ternama Popomangun.

Empat Langkah Meningkatkan Daya Saing Pelaku Ekraf

Untuk mendukung tumbuhnya UMKM dan pelaku industri kreatif pemula, Noval memberikan empat kiat utama:

  1. Menentukan produk utama – Apakah berupa kriya, fesyen, kuliner, atau gabungan dari semuanya.
  2. Manajemen keuangan yang disiplin – Pisahkan dana bisnis dan pribadi.
  3. Optimalkan kemasan dan promosi – Gunakan teknologi seperti aplikasi AI murah untuk desain yang menarik.
  4. Pentingnya HaKI – Lindungi produk melalui Hak Kekayaan Intelektual agar tidak mudah ditiru saat sukses di pasar.

Sementara itu, Ketua Banom UMKM DPP GEKRAFS, Faizal Hermiansyah, menambahkan bahwa transformasi UMKM menuju ekonomi kreatif adalah langkah penting untuk mencapai kemandirian ekonomi nasional.

“Ketika ekonomi kreatif menyatu dengan UMKM, lahirlah inovasi lokal yang mampu bersaing di pasar global,” tegas Faizal.

Reknas 2025: Kongres 1 GEKRAFS dan Festival SVARAVEST

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kreatif nasional, GEKRAFS akan menggelar Rembuk Kreatif Nasional (Reknas) 2025 pada 18–20 Juli 2025 di GBK Baseball Field, Senayan, Jakarta.

Acara ini akan menghadirkan dua agenda utama, yaitu Kongres 1 GEKRAFS dan SVARAVEST, sebuah festival musik dan UMKM yang akan melibatkan komunitas kreatif dari seluruh Indonesia.

Kongres pertama GEKRAFS ini akan menjadi momentum bersejarah, dengan agenda penting seperti stadium general, pemilihan ketua umum periode pertama, serta penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).