Bagikan:

KARAWANG - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa proyek pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang digarap PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), CATL, dan Indonesia Battery Corporation (IBC) berpotensi mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 300.000 kiloliter (KL) per tahun.

Hal itu disampaikan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat melaporkan perkembangan proyek tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto di Kawasan Artha Industrial Hills, Karawang, Jawa Barat, Minggu, 29 Juli. 

"Ini bisa menghemat impor BBM sekitar 300.000 kiloliter per tahun dengan kapasitas 15 GWh. Target kita ke depan bisa sampai 40 GWh, seiring meningkatnya pasar baterai, termasuk untuk PLTS," ujar Bahlil.

Pabrik baterai sel di Karawang ini ditargetkan memiliki kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama, yang akan mulai beroperasi pada akhir 2026. Selanjutnya, proyek ini akan diperluas hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.

Produksi baterai dari pabrik ini nantinya akan digunakan untuk mendukung kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system), baik untuk kebutuhan pasar domestik maupun global.

Proyek yang sebelumnya dikenal sebagai Proyek Dragon ini memiliki nilai investasi sebesar 1,2 miliar dolar AS untuk Karawang, sementara di Maluku Utara mencapai 4,7 miliar dolar AS.

"Tambang, smelter, precursor, katoda, RKF semuanya di Maluku Utara. Di Karawang ini hanya untuk battery cell, supaya dekat dengan pabrik otomotif," jelas Bahlil.

Selain efisiensi impor energi fosil, proyek ini juga mengusung prinsip keberlanjutan dalam pasokan energi. Kombinasi pembangkit yang digunakan meliputi PLTU 2 x 150 MW, PLTG 80 MW, pembangkit dari limbah panas (waste heat) 30 MW, dan PLTS 172 MWp untuk wilayah Maluku Utara.

Adapun di Karawang, pabrik baterai akan menggunakan PLTS sebesar 24 MWp. "Jadi, ini betul-betul kita dorong agar ramah lingkungan," tandas Bahlil.