JAKARTA - Soal potensi penundaan IPO BUMN karena Danantara, Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang menyusun kajian strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk grup usaha besar, calon emiten potensial, investor institusi dan ritel, serta lembaga pemerintah.
Menurutnya kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi minat dan tantangan yang dihadapi perusahaan besar dalam melakukan IPO, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan regulasi dan penguatan infrastruktur pasar.
"Di samping itu, BEI memiliki unit kerja khusus yang secara aktif mendampingi perusahaan-perusahaan termasuk perusahaan dengan skala aset besar baik swasta, BUMN, maupun BUMD dalam mempersiapkan IPO," tutur Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna dalam keterangannya, Selasa, 24 Juni.
Nyoman menambahkan juga terdapat pendampingan yang dilakukan melalui berbagai inisiatif seperti go public workshop, coaching clinic, pertemuan satu lawan satu (one-on-one meeting).
Selain itu, ia menambahkan ada juga acara networking antara pelaku usaha dan profesi pasar modal dimana langkah ini diharapkan dapat mempercepat transformasi perusahaan menuju status terbuka.
BACA JUGA:
Terkait peran Danantara sebagai liquidity provider, Nyoman menyebut bahwa berdasarkan regulasi BEI, saat ini hanya Anggota Bursa yang dapat berperan sebagai liquidity provider untuk saham.
Meski demikian, ia menyampaikan BEI menyambut baik Danantara untuk mendorong anak perusahaan BUMN yang telah menjadi Anggota Bursa agar turut serta menjadi liquidity provider, tidak hanya untuk saham IPO lighthouse tetapi juga untuk saham-saham yang masuk dalam Daftar Efek Liquidity Provider.
"Hal ini dapat meningkatkan pendalaman pasar, likuiditas, dan kepercayaan investor," pungkasnya.