JAKARTA – PT Hero Global Investment Tbk (HGII) mengapresiasi komitmen pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mewujudkan transformasi bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 61 persen atau 42,6 gigawatt (GW) dari total penambahan kapasitas listrik 69,5 GW dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Periode 2025-2034.
Direktur Utama HGII Robin Sunyoto mengatakan bahwa RUPTL 2025-2034 yang telah disahkan kemarin, bukan hanya sekadar rancangan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, melainkan peta jalan masa depan energi Indonesia yang berkomitmen untuk mendorong transisi energi ramah lingkungan.
"Kami melihat bahwa RUPTL 2025 – 2034 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam meningkatkan bauran energi hijau untuk mewujudkan target net zero emission," ujarnya dalam keterangannya, Selasa, 27 Mei.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa RUPTL ini juga memberikan ruang cukup besar terhadap investasi swasta dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di tanah air dan pihaknya siap mengakselerasi pengembangan EBT dan mendukung pelaksanaan RUPTL 2025 – 2034.
Dalam RUPTL terbaru, porsi EBT sebesar 42,6 GW terdiri atas energi surya sebesar 17,1 GW, air 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi (geothermal) 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan nuklir 0,5 GW.
Adapun, RUPTL 2025-2034 merupakan rencana pemerintah dalam menyediakan tenaga listrik bagi masyarakat Indonesia dan menjadi pedoman dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan.
Robin menegaskan, sebagai perusahaan yang telah mengelola pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) dengan total kapasitas 19 MW, HGII siap mendukung pemerintah dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di Indonesia.
Robin menyampaikan selain porsi EBT yang dominan, RUPTL 2025-2034 juga memberikan porsi cukup besar kepada pihak swasta atau pengembang listrik swasta (IPP), yaitu Rp1.566,1 triliun atau 73 persen dari total investasi Rp2.133,7 triliun, sedangkan PT PLN (Persero) Rp567 triliun atau 27 persen.
Oleh sebab itu, Robin menyampaikan HGII siap mendukung dan berkolaborasi dengan PLN dalam menjalankan RUPTL 2025-2034 untuk memanfaatkan potensi sumber energi baru terbarukan seperti air, surya, biomassa, dan biogas untuk menjadi energi listrik bagi masyarakat serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurutnya, HGII memiliki pengalaman serta portofolio dalam mengembangkan dan mengelola EBT sehingga siap untuk berkontribusi nyata dalam mendukung rencana pemerintah dan PT PLN (Persero) dalam menjalankan peta jalan ketenagalistrikan yaitu RUPTL 2025-2034.
Robin menyampaikan selain mengelola PLTM dengan total kapasitas 19 MW di Sumatra Utara, HGII juga turut berinvestasi dalam kepemilikan minoritas di Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) berkapasitas 3 MW di Provinsi Riau.
Berdasarkan data RUPTL 2025 – 2034, Sumatra mendapatkan porsi 9,5 GW, terbesar kedua dalam pengembangan EBT, setelah wilayah Jawa, Madura, dan Bali.
Pengembangan pembangkit EBT di Sumatra periode 2025 – 2034 sebesar 9,5 GW didominasi air/hidro (PLTA dan PLTM) 4,94 GW, panas bumi (PLTP) 2,02 GW, bioenergi (PLTBg dan PLTBm) 60 MW, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) 250 MW, dan surya (PLTS) 1.61 GW.
BACA JUGA:
Menurutnya hal ini menjadi peluang besar bagi HGII untuk terus berekspansi pembangkit EBT di Sumatra, yang di mana pada Januari 2025 lalu HGII telah berhasil menghimpun dana IPO sebesar Rp260 miliar untuk mengembangkan PLTA 25MW dan PLTM 10 MW yang keduanya berlokasi di Sumatera Utara.
Robin menegaskan bahwa HGII berkomitmen untuk terus berinvestasi dan mengembangkan bisnis sektor energi hijau di tanah air sehingga ke depan akan mengelola pembangkit EBT berkapasitas 100 MW pada tahun 2031.
Ia menyampaikan HGII memiliki beberapa proyek dalam pipeline energi terbarukan yang akan dikembangkan ke depan, yaitu air (58 MW), biomassa (8 MW), biogas (6 MW) dan surya (10 MW).