KARAWANG - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengklaim keputusan pemerintah Indonesia menutup keran impor turut berdampak pada turunnya harga komoditas tersebut di tingkat global.
“Pelanggan utama dan yang paling banyak membelinya, enggak impor lagi, yaitu Indonesia. Jadi itu faktor Indonesia tidak impor beras ini, bagi komoditas beras dunia ini sangat berpengaruh, karena kita adalah pelanggan impor dengan kuantitas yang salah satu yang terbesar,” katanya dalam kunjungan di Sentra Penggiling Padi (SPP) Karawang, Jawa Barat, Kamis, 15 Mei.
Sudaryono mengatakan Indonesia termasuk negara dengan volume impor beras terbesar. Karena itu, sambung dia, ketika pemerintah memutuskan untuk menutup keran impor, negara produsen mengalami kelebihan pasokan.
“Begitu (Indonesia) enggak impor, mereka oversupply, begitu oversupply (harga) turun,” tuturnya.
Menurut Sudaryono, Indonesia juga tidak terdampak penurunan harga beras global. Dia juga bilang seluruh kebutuhan beras dapat dipenuhi dari dalam negeri.
“Kita tidak terpengaruh harga beras kita dengan beras dunia, karena kan kita produksi semua dalam negeri, sehingga enggak ada masalah. Kita melimpah, jadi tantangannya begini. Ini kan namanya good problem, lebih baik panen melimpah kita bingung cari solusi, daripada kita panennya enggak ada barangnya,” ucapnya.
Sudaryono mengutarakan, pemerintah saat ini sedang fokus menyerap hasil panen dalam negeri. Bahkan, lanjutnya, kondisi gudang Bulog sudah penuh.
BACA JUGA:
Ketua Dewan Pengawas Bulog ini juga bilang tempat penyimpanan diperluas. Mengingat panen tahun ini jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan.
“Bahkan udah nyewa gudang, udah pinjam gudang, udah gudangnya polisi, gudangnya tentara yang enggak kepakai, bahkan gudangnya kepala desa, kalau di desa itu ada gudang, kita udah sisir semua gudang supaya bisa nyerap lebih banyak. Udah kita kerjakan itu, tapi ternyata memang hasil panennya lebih banyak,” katanya.