Bagikan:

JAKARTA - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi buka suara terkait dengan penghentian opersional 15 unit pesawat milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Dia bilang itu dilakukan untuk maintenance atau pemeliharaan.

Menurut Dudy, jika memang sudah saatnya pesawat-pesawat tersebut masuk jadwal pemeliharaan maka mau tidak mau harus dilakukan. Sebab, jika tidak dilakukan akan berdampak pada keselamatan.

“Kalau yang saya tahu kan itu untuk maintenance yah. Karena memang kalau sudah waktunya maintenance ya mereka harus maintenance. Karena itu kan yang kita pertaruhkan adalah safety-nya (keamanannya),” ujarnya dalam jumpa pers, dikutip Jumat, 9 Mei.

Terkait kabar Garuda Indonesia tak kuat membiayai perawatan, Dudy mengatakan itu isu yang berbeda. Sebab, sambung Dudy, perseroan menyampaikan penghentian operasional pesawat karena harus menjalani pemeliharaan rutin.

“Nah apakah saat maintenance kemudian mereka tidak punya uang untuk maintenance itu urusan lain. Yang baru disampaikan adalah karena mereka jadwalnya untuk maintenance,” kata Dudy.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan untuk memasukan 15 unit pesawat ke bengkel guna menjalani perawatan berkala. Manajemen mengaku sedang menghadapi kesulitan karena terbatasnya pasok suku cadang pesawat.

Direktur Teknik Garuda Indonesia Rahmat Hanafi mengatakan 15 pesawat tersebut terdiri dari 1 milik armada Garuda Indonesia dan 14 lainnya merupakan armada milik Citilink Indonesia.

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan 15 unit armada tersebut tengah menunggu percepatan penjadwalan perawatan rutin berupa proses heavy maintenance.

“Termasuk penggantian suku cadang, untuk kembali siap beroperasi. Keseluruhan proses perawatan armada tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa, 6 Mei.

Rahmat bilang, perawatan armada ini memakan waktu yang cukup lama. Sebab, industri penerbangan global sedang menghadapi tantangan, khususnya dinamika rantai pasok suku cadang pesawat yang kini melanda hampir sebagian besar pelaku industri transportasi udara dunia.

“Tidak dapat dipungkiri kondisi keterbatasan supply chain atas suku cadang saat ini tengah dihadapi hampir seluruh pelaku industri penerbangan, sehingga menyebabkan pelaksanaan heavy maintenance membutuhkan waktu yang lebih panjang,” ucapnya.