Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan, RI masuk dalam jajaran negara dengan peningkatan nilai tambah dari sektor manufaktur atau manufacturing value added (MVA) terbesar dibanding seluruh negara di Asia Tenggara (Asean).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengklaim, berdasarkan laporan Bank Dunia, total MVA Indonesia dalam data terakhir pada 2023 mencapai 255,9 miliar dolar AS atau naik 5,79 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, nilai MVA Thailand sebesar 128 miliar dolar AS dan Vietnam tercatat mencapai 102 milar dolar AS.

"Indonesia mengungguli jauh dibandingkan negara Asean lainnya, seperti Thailand dan Vietnam yang nilai MVA-nya hanya setengah dari nilai MVA Indonesia," ujar Agus seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin, 5 Mei.

Menurut Agus, angka tersebut juga sekaligus menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah sejak diberlakukan pada 1983 silam.

Secara historis, rata-rata MVA Indonesia sejak 1983 hingga 2023 adalah 102,85 miliar dolar AS, dengan nilai terendah sebesar 10,88 miliar Dolar AS.

Output nilai manufaktur itu, kata Agus, juga dinilai berhasil menyamai sejumlah negara maju, seperti Rusia, Inggris hingga Prancis.

"Ini mencerminkan kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian nasional dan perannya di kancah global," katanya.

Berdasarkan data yang sama, rata-rata MVA dunia adalah 78,73 miliar dolar AS, yang berdasarkan data dari 153 negara.

Untuk diketahui, sektor industri manufaktur berkontribusi sebesar 18,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menjadikannya penyumbang terbesar dibanding sektor-sektor lainnya.

Pencapaian tersebut sekaligus mengkonfirmasi bahwa sektor manufaktur terus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja serta daya saing ekspor Indonesia.