JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor alat kesehatan (alkes) nasional pada 2024 mencapai nilai 273 juta dolar AS (Rp4,6 triliun).
Jumlah tersebut terdapat peningkatan transaksi produk alkes dalam negeri pada e-katalog mencapai 48 persen.
Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kemenperin Solehan mengatakan, industri alkes Indonesia siap naik kelas karena teknologi pencitraan ini sudah dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengumpulan data yang lebih presisi, sehingga mendukung efisiensi kerja dan akurasi diagnosis.
Solehan mengatakan, data Sistem Industri Nasional (SINAS) menunjukkan bahwa saat ini sudah ada 393 perusahaan alkes yang terdaftar pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Kemudian, data rekapitulasi sertifikat TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) menunjukkan, ada 2.505 sertifikat TKDN yang terbit dan masih berlaku untuk produk alat kesehatan.
"Antara lain produk tempat tidur rumah sakit, hospital bed, bapak ibu sekalian. Alat suntik, syringe, tensimeter, elektromedis, ventilator, dan lain sebagainya dengan nilai TKDN dengan range antara 16,45 persen sampai dengan 92,22 persen." kata Solehan dilansir ANTARA, Rabu, 23 April.
Menurutnya, ketika Indonesia mampu menciptakan teknologi menengah hingga tinggi, seperti pada produk USG yang menggunakan AI ini, maka pihak luar negeri akan tertarik untuk berinvestasi dan mengembangkan alkes di Indonesia.
Solehan menilai, ketika berbicara soal alat kesehatan, hal itu bukan hanya tentang produk industri, namun juga kesehatan nasional, tentang kemandirian bangsa dan tentang kemampuan industri untuk menjawab kebutuhan rakyatnya sendiri.
BACA JUGA:
Sementara itu, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menyebutkan, pihaknya turut mendukung pengembangan dan adopsi AI pada alat kesehatan, dengan cara memastikan kualitas dan akurasi alkes melalui asesmen teknologi kesehatan (Health Technology Assessment/HTA) agar manfaat produk dapat dirasakan sebesar-besarnya bagi publik.
Rizka berharap, kolaborasi antara pemerintah hingga industri sangat penting guna memperluas kebermanfaatan alkes bagi publik.
"Sekarang kita ini berlomba-lomba mencari, berupaya mencari metode-metode skrining, metode diagnostik yang paling efektif, cost effective, karena sumber daya kita ya segitu-gitunya. Masyarakat kita bertambah terus, kita ingin masyarakat kita dengan anggaran yang tidak perlu ditambah tapi dia mendapatkan benefit yang lebih luas," ujarnya.