JAKARTA - PT Fore Kopi Indonesia (FORE) resmi melantai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Fore Coffee menjadi emiten ke-12 yang mencatatkan saham di BEI sepanjang tahun 2025.
Adapun dalam pencatatan perdana saham FORE hari ini, terdapat Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir dan Bos Sinar Mas Group Franky O. Widjaja terpantau hadir.
Pandu menyampaikan kedatangannya ke IPO FORE lantaran dirinya telah berinvestasi dan menjadi salah satu investor yang telah mendukung FORE sejak 7 tahun lalu, setelah diajak oleh Wilson Cuaca yaitu Komisaris Utama FORE sekaligus Managing Partner East Ventures.
"Ini saya pribadi 7 tahun lalu, saya investasi di perusahaan namanya Kopi Karena diajak Wilson cuaca Namanya Fore Saya support lah ini Saya masuk ke sini sebagai kapasitas pribadi Itu namanya Liquidity Provider Karena kita investasi berapa kali disini Alhamdulillah jadi IPO,” ujar Pandu saat ditemui di Gedung BEI, Senin, 14 April.
Sebagai informasi, Saham Fore pada saat dibuka perdana menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) di level 34,04 persen dengan harga Rp252 per saham.
Selain itu, Saham Fore mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscription) mencapai mencapai lebih dari 200,63 kali dari 114.873 ribu investor yang tercatat berpartisipasi pada penjatahan terpusat pada 10 April 2025 yang mengacu pada data dari sistem e-IPO.
Melalui IPO ini, Fore menawarkan sebanyak-sebanyak 1,88 miliar saham atau mewakili 21,08 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Adapun, Fore menawarkan saham dengan harga penawaran awal di kisaran Rp160–Rp202 per saham, sehingga berpotensi mendapatkan dana segar sebesar Rp379,76 miliar dari penawaran umum perdana saham.
Selanjutnya, dana yang diperoleh dari hasil IPO akan digunakan sebesar 76 persen untuk membuka sekitar 140 outlet baru kopi di Indonesia dalam dua tahun ke depan, dengan komposisi outlet tersebut adalah 10 persen outlet flagship, 80 persen untuk outlet medium, dan 10 persen outlet satellite yang termasuk tapi tidak terbatas pada biaya renovasi biaya pengadaan peralatan dan perlengkapan outlet di wilayah Jabodetabek, serta wilayah lain di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.
Adapun, rincian alokasi dana sebagai berikut yaitu sekitar Rp275 miliar untuk memperluas jaringan outlet kopi dengan target pembangunan 140 outlet baru dalam dua tahun ke depan.
Sekitar Rp60 miliar untuk ekspansi vertikal melalui pembukaan outlet donat oleh anak perusahaan dan sekitar Rp18,44 miliar untuk mendukung kebutuhan modal kerja operasional.
Selain itu, Fore juga akan menggunakan 18 persen dana hasil IPO untuk melakukan setoran modal untuk membuka outlet donat melalui anak perusahaan, dan 6 persen untuk modal kerja. Dimana penggunaan dana tersebut direncanakan untuk dilakukan secara bertahap dari tahun 2025 sampai tahun 2026.
Adapun, Fore Coffee mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid dan konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Adapun, hingga September 2024, Fore Coffee mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp727 miliar, tumbuh 135 persen (yoy), dengan CAGR 112 persen (2021-2023).
Kemudian, Laba kotor sebesar Rp447 miliar, naik 128 persen (yoy), dengan CAGR 122 persen (2021–2023). Serta EBITDA sebesar Rp135 miliar, melonjak 187 persen (yoy).
Selain itu, pertumbuhan ini mencerminkan efektivitas strategi ekspansi dan memperkuat posisi Fore Coffee di industri kopi nasional.
Berdasarkan laporan Redseer Analysis (Desember 2024), pasar kopi Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 11 persen hingga 2030, dengan potensi nilai pasar mencapai USD 12,6 miliar atau sekitar Rp 214 triliun.
Komisaris Utama Fore Coffee serta Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca mengatakan perubahan preferensi konsumen dan tren gaya hidup semakin membuka peluang besar bagi pemain dengan pondasi kuat dan proposisi nilai yang relevan seperti Fore Coffee.
BACA JUGA:
Wilson menyampaikan Fore Coffee menjalankan strategi pertumbuhan berbasis data dan riset pasar menyeluruh yang dieksekusi oleh tim pengembangan bisnis internal.
"Evaluasi performa gerai secara berkala memastikan ekspansi yang terukur dan bernilai tambah bagi bisnis jangka panjang," tuturnya.
Menurutnya pendekatan ini dilengkapi dengan inovasi berkelanjutan dari tim R&D dan pelatihan barista untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas produk di seluruh gerai.