JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani meminta pemerintah berhati-hati dalam melakukan negosiasi atas kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Shinta berharap, pemerintah juga terbuka menerima masukan dari pelaku usaha terkait kondisi di lapangan, mana yang baik dan mana belum baik.
"Mesti sering-sering ketemu Bapak (Prabowo Subianto) ini seperti suntik Vitamin C, energi langsung meluap-luap. Bapak selalu mengatakan Indonesia Incorporated. Artinya, kami juga adalah bagian dari pemilik saham negeri ini," ujar Shinta dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia seperti dilihat VOI dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu, 9 April.
Di sisi lain, Shinta menyoroti strategi yang telah dilakukan justru tidak terasa dampaknya di lapangan. Padahal, kata dia, sudah banyak effort dan strategi baik yang dilakukan, namun dampak implementasinya belum dirasakan.
"Saya mau memberikan contoh pak ini sangat spesifik karena tadi sudah disampaikan Pak Luhut mengenai deregulasi dan juga ekonomi biaya tinggi. Ini kenyataan yang benar terjadi di lapangan, masalah perizinan bapak sudah tahu begitu banyak permasalahan. Tapi sebenarnya solusinya, kan, bapak ada dan sudah disampaikan juga. Namun, kenyataannya sudah bertahun-tahun ini banyak yang belum bisa diperbaiki. Jadi, biarlah kami memberikan peran kami untuk memberikan masukan dari lapangan pak apa yang sudah jalan, apa yang belum jalan," ucap Shinta.
"Apapun yang kami lalukan perlu action. Kami melihat Presiden Trump ini hanya melihat deal. Kami langsung menghubungi mitra kami di Amerika. Karena Amerika itu jelas mau melihat bagaimana menurunkan defisit. That's it. Yang pasti mereka mau tahu kapan kamu bisa impor, kapan impornya? Oleh karena itu, kami langsung berinteraksi dengan pelaku usaha di sana untuk bagaimana kami bisa meningkatkan impor. Tapi, kami mohon ini bisa langsung diimpor oleh industri, maksudnya tidak ada melalui pihak-pihak ketiga. Karena ini akan jelas langsung memangkas beberapa permasalahan yang dihadapi," sambungnya.
Adapun impor yang dimaksud Shinta di antaranya gandum, kedelai dan juga beberapa komoditas lain yang bisa diimpor dari AS. Sebagai catatan, Indonesia memang masih mengandalkan 90-100 persen kebutuhan gandum dan kedelainya dari pasokan impor. Termasuk dari negeri Paman Sam.
Lalu, Shinta pun meminta tim negosiasi berhati-hati dalam melakukan negosiasi. Termasuk, mengantisipasi ancaman pengalihan (diversion).
BACA JUGA:
"Nah kami juga mesti melihat dari pasar Amerika ini secara positif bagaimana kami bisa bernegosiasi. Tapi di sisi lain kami juga mesti berhati-hati, ini penting. Karena apapun Indonesia ini market yang besar. Jadi, jelas pasti ada diversion. Makanya kami selalu mengatakan antidumping itu sangat penting, karena kami juga mesti melindungi industri dalam negeri kami. Makanya pak, saya rasa ini sangat penting untuk kami perhatikan bersama," pungkasnya.
Adapun Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 mengumumkan kebijakan tarif resiprokal kepada sejumlah negara, termasuk RI, yang efektif berlaku tiga hari setelah diumumkan.
Kebijakan Trump itu diterapkan secara bertahap, yakni mulai dari pengenaan tarif umum 10 persen untuk seluruh negara terhitung sejak 5 April 2025, kemudian tarif khusus untuk sejumlah negara, termasuk RI, mulai berlaku pada 9 April 2025 pukul 00.01 EDT (11.01 WIB).
Dari kebijakan terbaru AS tersebut, RI terkena tarif resiprokal 32 persen, sementara negara-negara ASEAN lainnya seperti Filipina 17 persen, Singapura 10 persen, Malaysia 24 persen, Kamboja 49 persen, Thailand 36 persen dan Vietnam 46 persen.