JAKARTA - Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo, menyampaikan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah masih berpotensi menguat dalam kondisi tertentu.
Sutopo menjelaskan seperti ketidakpastian global mereda, investor kemungkinan akan mengalihkan fokus dari aset safe haven, seperti Dolar AS, ke mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah.
"Kebijakan fiskal strategis, seperti pengendalian inflasi, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan pemeliharaan surplus perdagangan, dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap Rupiah," ujarnya kepada VOI, Kamis, 26 Maret.
Selain itu, Sutopo menyampaikan terdapat arus masuk investasi asing langsung (FDI) dan stabilitas arus modal masuk ke Indonesia dapat memberikan dukungan terhadap penguatan mata uang tersebut.
Sutopo menambahkan serta upaya Bank Indonesia untuk menjaga inflasi dalam batas target serta menerapkan kebijakan moneter yang pro-pertumbuhan diharapkan dapat berdampak positif bagi nilai Rupiah.
Namun, Sutopo menyampaikan meskipun ada tantangan seperti tren suku bunga global dan kekhawatiran terkait kondisi fiskal domestik, faktor-faktor tersebut tetap memberikan peluang bagi Rupiah untuk menguat.
"Perkiraan nilai tukar rupiah diprediksi berada di kisaran Rp16.500 - Rp17.000 dalam pekan ini," ucapnya.
Di sisi lain, Sutopo menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara tekanan ekonomi internasional dan kekhawatiran terhadap kondisi keuangan domestik.
Sutopo menyampaikan pelemahan Rupiah Indonesia dipengaruhi oleh penguatan Dolar AS, yang telah pulih dari titik kritis, serta ketidakpastian ekonomi global mendorong investor untuk mencari aset safe haven seperti Dolar AS.
"Kekhawatiran seputar potensi pengenaan tarif AS dan ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi juga menjadi faktor pendukung," jelasnya.
Di dalam negeri, Sutopo menyampaikan ada kekhawatiran mengenai kesehatan fiskal Indonesia, khususnya terkait dengan potensi peningkatan defisit anggaran, turut memengaruhi nilai Rupiah, meskipun fundamental ekonomi Indonesia secara umum relatif kuat, sentimen investor dipengaruhi oleh isu defisit transaksi berjalan dan inflasi.
"Fluktuasi sentimen pasar, seperti kekhawatiran tentang stabilitas politik atau kebijakan ekonomi, masih menjadi pemicu pelemahan Rupiah," imbuhnya.
BACA JUGA:
Sutopo juga menjelaskan bahwa durasi pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS sangat bergantung pada beberapa faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan fiskal domestik, dan sentimen investor.
"Saat ini, Rupiah tengah menghadapi tekanan akibat menguatnya Dolar AS, didorong oleh kebijakan agresif dari Federal Reserve AS dan ketidakpastian ekonomi global. Di dalam negeri, kekhawatiran tentang kesehatan fiskal dan inflasi Indonesia juga turut berperan," jelasnya.
Namun, Sutopo mengatakan Rupiah mungkin akan terus menghadapi tantangan dalam waktu dekat, terutama jika ketidakpastian ekonomi global berlanjut dan suku bunga AS tetap tinggi. Namun kebijakan strategis pemerintah, seperti pengendalian inflasi dan upaya menjaga stabilitas ekonomi, dapat membantu meredakan tekanan tersebut seiring berjalannya waktu.
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah pada hari Selasa, 25 Maret, Kurs rupiah spot ditutup turun 0,27 persen ke level Rp16.612 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,36 persen ke level harga Rp16.622 per dolar AS.