JAKARTA - Pemerintah akan segera melakukan peresmian bank emas Indonesia atau bullion bank pada Rabu, 26 Februari.
Adapun, bank emas Indonesia ini dibentuk oleh pemerintah untuk mendorong transformasi, optimalisasi cadangan emas, memperkuat sektor keuangan dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.
Direktur Investor Relation PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) Thendra Chrisnanda memperkirakan dengan potensi nilai rantai bisnis emas dari hulu hingga hilir mencapai Rp482,6 triliun per tahun.
"Berdasarkan studi internal dari HRTA, potensi nilai rantai bisnis emas dari hulu (pertambangan emas), tengah (pemurnian dan manufaktur emas), hingga hilir (ekspor, grosir, dan ritel) mencapai Rp482,6 triliun per tahun," ucapnya dalam keterangannya, Rabu, 26 Februari.
Sementara itu, berdasarkan studi Kementerian Perekonomian, Bullion Bank berpotensi meningkatkan PDB Indonesia sebesar 0,15 persen, konsumsi sebesar 0,28 persen, dan investasi sebesar 0,32 persen.
"Efek domino ini akan menciptakan lebih dari 800.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat. Sementara itu, bisnis bullion diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi, hanya sebesar 0,02 persen per tahun," ujarnya.
Adapun berdasarkan data OJK, total aset lembaga keuangan Indonesia hingga tahun 2024 mencapai sekitar Rp16.628 triliun dengan asumsi alokasi 1 persen dalam bentuk emas batangan, terdapat potensi permintaan baru sekitar Rp166,28 triliun per tahun untuk emas di Indonesia.
"Jika Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini, Indonesia akan menjadi pemain utama di Asia, setara dengan Singapura dan Dubai," jelasnya.
Menurutnya China telah memulai proyek percontohan yang mengizinkan perusahaan asuransi mereka untuk mengalokasikan 1 persen aset dalam bentuk emas batangan mulai Februari 2025, dengan total nilai diperkirakan mencapai 27,4 miliar dolar AS.
"Kebijakan ini diyakini akan diikuti oleh negara berkembang lainnya," tuturnya.
Di sisi lain, Thendra menjelaskan dengan berdirinya bank bullion ini, Indonesia mengambil langkah besar untuk menjadi pemain utama di pasar bullion global.
BACA JUGA:
Thendra menyampaikan latar belakang Pemerintah ingin mendirikan bank emas sendiri lantaran Indonesia merupakan produsen emas terbesar ke-7 di dunia dengan produksi mencapai 132,5 ton pada tahun 2023 berdasarkan World Gold Council.
"Namun, Indonesia masih berada di rantai nilai terbawah dalam bisnis emas karena mengekspor gold dore senilai sekitar 5 miliar dolar AS per tahun, sementara masih mengimpor emas batangan senilai 2 miliar dolar AS per tahun," ujarnya.
Thendra menyampaikan dalam tiga tahun terakhir, bank sentral di seluruh dunia terus mengakumulasi emas batangan fisik lebih dari 1.000 ton per tahun, namun cadangan emas Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan sejak lima tahun lalu, tetap di angka 78,6 ton atau hanya sekitar 4 persen dari total cadangan devisa Indonesia.
"Persentase ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata bank sentral dunia yang berada di atas 20 persen," jelasnya.