Bagikan:

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan selalu aktif di pasar untuk terus memantau pergerakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan terus melakukan intervensi hampir setiap hari, baik di pasar spot maupun di pasar domestik non-delivery forward, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.

"Bank Indonesia selalu berada di pasar dan hampir setiap hari, bahkan setiap hari kita intervensi baik di pasar spot maupun domestik non delivery forward agar rupiah tetap stabil," kata Perry dalam konferensi pers, Rabu, 19 Februari.

Perry menilai kestabilan nilai tukar rupiah diukur dari setaranya dengan mata uang negara-negara berkembang lantaran stabilitas penting agar ekonomi Indonesia terus berjalan.

"Negara-negara berkembang yang menjadi peer group kita ada China, Korea, Malaysia, Thailand, India dan Singapura, itu setaranya di situ kita arahkan. Stabilitas adalah yang paling penting agar ekonomi kita terus bergulir. Tidak ada suatu negara ekonominya bergulir tanpa adanya stabilitas termasuk stabilitas nilai tukar rupiah," ucapnya.

Perry menjelaskan itulah kenapa Bank Indonesia terus berada di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada saat gejolak global terus terjadi.

"Gejolak global terus-terusan dan itu komitmen kami menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan alhamdulillah puji Tuhan tadi rupiah itu bergerak stabil bahkan di bulan Februari itu menguat," jelasnya.

Berdasarkan data hingga 18 Februari 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat sebesar 0,15 persen secara point to point (ptp) dibandingkan dengan level pada akhir Januari 2024.

Perry menyampaikan perkembangan tersebut sejalan konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut, imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Meski demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi sebesar 1,06 persen secara year to date (ytd) dari akhir Desember 2024.

Namun demikian, Perry menyampaikan Rupiah relatif stabil bila dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang mitra dagang utama Indonesia, sedangkan terhadap kelompok mata uang negara maju di luar dolar AS tetap berada dalam tren menguat.

Ke depan, Perry mengatakan nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil didukung komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Perry menegasakan seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.

"Penguatan kebijakan Pemerintah terkait DHE SDA yang berlaku mulai 1 Maret 2025 diprakirakan akan turut mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah ke depan," jelasnya.