JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim bahwa produksi cabai rawit merah surplus sebanyak 23.349 ton di bulan Januari 2025. Lalu, kenapa harga cabai makin mahal di pasaran?
Direktur Sayur dan Tanaman Obat Kementan Andi Muhammad Idul Fitri mengatakan bahwa produksi bulan pada Januari mencapai 111.041 ton. Sementara, kebutuhan 87.692 ton. Artinya, produksi cabai mengalami surplus sebanyak 23.349 ton.
“Di neraca bulanan dan kumulatif kita masih surplus seperti itu. Neraca produksi cabai rawit kita di bulan Januari, ada neraca bulanan di 23.349 ton,” katanya dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi 2025 secara virtual dikutip dari YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin, 13 Januari.
Andi mengatakan harga cabai rawit merah rata-rata nasional Rp73.640 per kilogram (kg) di tingkat konsumen. Sementara harga di tingkat petani Rp52.310 per kg.
Adapun harga acuan pembelian (HAP) cabai rawit merah di tingkat konsumen berkisar Rp40.000 sampai Rp57.000 per kg. Sedangkan, HAP di tingkat petani Rp25.000 sampai Rp31.500 per kg.
“Memang rata-rata harga mingguan cabai rawit ini, dua minggu ini melenting naik jauh signifikan, baik untuk harga konsumen maupun di tingkat petani,” ujarnya.
Andi mengatakan bahwa salah satu penyebab ke kenaikan harga cabai rawit merah saat ini adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan sejumlah wilayah sentra cabai terendam banjir.
“Lokasi kawasan yang terdampak antara lain di Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Temanggung serta sentra-sentra lainnya yang berada di dataran rendah.Dampak banjir ini menyebabkan potensi kehilangan produksi mencapai 70 hingga 87 persen,” tuturnya.
BACA JUGA:
Kemudian, sambung Andi, rendahnya harga jual cabai rawit merah beberapa waktu yang lalu, menyebabkan para petani tidak merawat tanaman yang sudah kondisi siap panen.
“Petani juga banyak mengganti komoditas yang diusahakan, terutama petani baru yang tidak terbiasa menanam cabai rawit merah. Hal ini berdampak pada berkurangnya luas areal tanam cabai,” katanya.